balibercerita.com —
Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama sejumlah universitas dan lembaga internasional menggelar Workshop International Stress Test di Tanjung Benoa pada Rabu (10/6). Kegiatan ini menjadi bagian dari riset kolaboratif untuk menguji dan memperkuat ketangguhan sistem serta masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana pesisir.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, Mohammad Farid menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kerja sama multinasional yang melibatkan konsorsium dari berbagai institusi, di antaranya Western University Kanada, University of Bristol Inggris, University College London (UCL), Ca’ Foscari University Italia, Dalhousie University Kanada, serta universitas dari Kuba. Dari Indonesia, turut terlibat BRIN, Kementerian PUPR, dan ITB.
“Ini merupakan konsorsium besar yang tidak hanya melibatkan Indonesia, tetapi juga Kanada, Inggris, hingga Kuba. Kegiatan ini bagian dari penelitian untuk meningkatkan resiliensi atau ketahanan masyarakat terhadap bencana,” ujarnya.
Workshop ini berfokus pada stress test sistem kebencanaan, khususnya dalam menghadapi kondisi darurat di wilayah pesisir. Tidak hanya tsunami, tetapi juga potensi bencana lain seperti banjir rob, perubahan iklim, hingga longsor.
Menurut Farid, kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi kekuatan sistem yang sudah ada di masyarakat, sekaligus mengevaluasi aspek yang perlu diperkuat, seperti sistem peringatan dini, koordinasi lintas sektor, dan keterlibatan masyarakat serta pemerintah. Pemilihan Tanjung Benoa sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Kawasan ini telah ditetapkan UNESCO sebagai Tsunami Ready Village, sekaligus menjadi lokasi evaluasi kesiapsiagaan bencana yang akan dilakukan pada Juli mendatang.
Ketua FPRB Tanjung Benoa, I Wayan Deddy Sumantra mengatakan bahwa workshop ini menghadirkan skenario baru yang lebih kompleks untuk menguji respons masyarakat terhadap berbagai kemungkinan bencana. “Tidak hanya tsunami, tapi juga banjir, rob, perubahan iklim, hingga skenario terburuk dari gempa megathrust. Kita ingin melihat bagaimana respons masyarakat dalam kondisi darurat yang berbeda-beda,” katanya.
Ia menjelaskan, salah satu fokus utama adalah penguatan respons mandiri masyarakat, termasuk sistem komunikasi peringatan dini berbasis kearifan lokal seperti penggunaan kulkul jika sistem teknologi mengalami gangguan.
Berbeda dari pelatihan sebelumnya, workshop ini juga menyoroti aspek loss and damage serta pemulihan pascabencana (recovery). Menurut Deddy, hal ini penting karena pemulihan sosial, ekonomi, dan infrastruktur sering kali menjadi tantangan terbesar setelah bencana terjadi. “Yang kita bahas bukan hanya tanggap darurat, tetapi juga bagaimana proses pemulihan setelah bencana. Siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana masyarakat bisa bangkit kembali,” tegasnya.
Ia menambahkan, Tanjung Benoa kini berkembang sebagai pusat riset kebencanaan berbasis masyarakat yang tidak hanya fokus pada mitigasi, tetapi juga pengembangan edu-wisata kebencanaan yang telah dikenal secara internasional.
Melalui kegiatan ini, Tanjung Benoa diharapkan dapat menjadi model nasional bahkan internasional dalam pengelolaan risiko bencana pesisir. Hasil workshop akan dijadikan rekomendasi bagi berbagai pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun lembaga kebencanaan.
Kegiatan ini juga diharapkan membuka peluang kerja sama lanjutan, termasuk program pengabdian masyarakat ITB di Bali yang akan fokus pada penguatan kesiapsiagaan pascabanjir dan tsunami. Dengan pendekatan kolaboratif lintas negara, Tanjung Benoa kini tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata bahari, tetapi juga sebagai laboratorium hidup mitigasi bencana pesisir kelas dunia yang terus dikembangkan melalui riset dan inovasi berkelanjutan. (BC5)


















