Ramai Dikritik di Media Sosial, Bendesa Adat Kapal Jelaskan Maksud Imbauan Mebanten

0
7
Mebanten
Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana. (BC9)

balibercerita.com –
Pernyataan Bendesa Adat Kapal, Ketut Sudarsana mengenai anjuran mebanten pada rahinan umat Hindu belakangan menjadi perbincangan luas di medsos. Menanggapi hal tersebut, Sudarsana memberikan klarifikasi terkait maksud dari pernyataannya yang disampaikan dalam sebuah kegiatan di lingkungan Desa Adat Kapal beberapa waktu lalu.

Menurutnya, imbauan tersebut ditujukan khusus kepada krama Desa Adat Kapal dan bukan ditujukan kepada seluruh umat Hindu. Sebagai bendesa adat, ia merasa memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga pelaksanaan adat, budaya, dan agama di wilayah yang dipimpinnya.

“Apa yang saya sampaikan itu kepada krama di Desa Adat Kapal yang menjadi tanggung jawab saya, ya,” ujarnya, saat ditemui di kediamannya Rabu (3/6).

Baca Juga:   Pujawali di Pura Luhur Uluwatu "Nyejer" Selama Tiga Hari 

Sudarsana menjelaskan, imbauan tersebut berlandaskan pada Lontar Sundarigama dan Agama Princi. Dalam sumber itu disebutkan adanya hari-hari tertentu yang dianggap baik untuk pelaksanaan upacara pada tingkat rumah tangga, seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, Kliwon, maupun rahinan jagat lainnya. Selain itu, diatur mengenai jenis banten serta tingkatan pelaksanaan upacara yang dapat disesuaikan.

“Kalau misalnya perkembangan sekarang masyarakat Hindu di Bali dia menghaturkan sesaji tiap hari, itu kan bukan hak saya untuk melarang. Tetapi saya di Desa Adat Kapal ya, punya tanggung jawab gitu,” ungkapnya.

Baca Juga:   Penandatanganan MoU Paguyuban Kawula Karaton Surakarta–Bali dengan ISI Denpasar Digelar di Pura Dalem Solo

Ia menambahkan, sosialisasi mengenai hal tersebut bukanlah hal baru bagi masyarakat Desa Adat Kapal. Bahkan, sekitar 80 persen dari total 2.600 kepala keluarga di desa tersebut disebut telah menerapkannya. Sudarsana juga mengingatkan bahwa pelaksanaan yadnya tidak semata-mata diwujudkan melalui mebanten atau menghaturkan sesaji.

“Untuk mengingatkan lagi, itu sesungguhnya tujuan saya. Tidak ada lain ya, karena kami di sini di Desa Adat Kapal, jangankan berupacara, tak menghaturkan sesajen ya, dari segi ritual pengabenan saja kami sudah sangat sederhana di sini,” paparnya.

Baca Juga:   Tawur Balik Sumpah Utama di Pura Lingga Bhuwana, Puspem Badung

Terkait berbagai respons negatif yang muncul setelah pernyataannya viral, Sudarsana menyampaikan permohonan maaf apabila apa yang disampaikannya dianggap tidak sejalan dengan pemahaman masyarakat secara umum. Ia juga menegaskan tidak ingin memperpanjang polemik yang berkembang di media sosial.

“Apa yang viral waktu ini, itu ya kalau memang itu tidak sesuai ya saya mohon maaf. Selesai sudah. Saya tidak ingin memperpanjang masalah dengan orang-orang yang tidak seide dengan pikiran saya,” imbuhnya. (BC9)