Rupiah Melemah: Pariwisata Diuntungkan, Sektor Riil Menengah ke Bawah Perlu Mitigasi Ketat

0
37
Rupiah
Mata uang rupiah. (ist)

balibercerita.com –
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami lonjakan tajam hingga menyentuh angka Rp17.700. Lonjakan yang dinilai sebagai salah satu yang tertinggi dalam sejarah ini mulai memicu tekanan berat pada perekonomian nasional.

Pelaku pariwisata, Wayan Puspa Negara angkat bicara mengenai situasi ini. Menurutnya, tekanan global yang terjadi saat ini tidak lepas dari dinamika geopolitik internasional.

​”Tekanan global ini tidak lepas dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di wilayah Selat Hormuz. Dampaknya langsung terasa pada pelemahan mata uang di berbagai belahan dunia, bukan hanya Indonesia saja,” ujar Wayan Puspa Negara, Kamis (21/5).

Meski pertumbuhan ekonomi makro nasional saat ini terpantau masih stabil di angka 5,6%, situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi terhadap potensi terjadinya inflasi ekstrem. Mencermati fenomena ini dari perspektif pariwisata, penguatan dolar AS sebenarnya membawa angin segar bagi sejumlah sektor di dalam negeri.

Baca Juga:   Distribusi Energi Aman Selama Lebaran 2026, Kecelakaan di Bali Ikut Menurun

Setidaknya ada tiga elemen yang mendapatkan keuntungan langsung. Pertama, peningkatan purchasing power wisatawan. Daya beli (buying power) wisatawan mancanegara meningkat tajam. Hal ini diproyeksikan akan memperpanjang masa tinggal (length of stay), meningkatkan belanja (expenditure), serta mendongkrak jumlah kunjungan.

Kedua, keuntungan eksportir. Para pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor diuntungkan karena komoditas mereka dihargai lebih tinggi dalam valuasi dolar, sehingga meningkatkan profitabilitas. Ketiga, geliat usaha money changer. Sektor penukaran mata uang asing turut merasakan dampak positif dari tingginya lalu lintas transaksi valuta asing.

Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan ganda yang harus dihadapi oleh sektor akomodasi seperti hotel, restoran, dan kafe (horeka). ​”Di satu sisi kita menyambut baik peningkatan daya beli wisatawan. Namun di sisi lain, operasional akomodasi (operational cost) di dalam negeri mulai tertekan akibat rembesan dampak inflasi,” tambahnya.

Baca Juga:   Bali Pasar Potensial, FOTILE Hadirkan Cooker Hood Tersembunyi Pertama di Indonesia

​Terlepas dari hal itu, tantangan terbesar dari lonjakan dolar ini adalah ancaman inflasi ekstrem yang diprediksi bisa mencapai 20% hingga 30%. Inflasi ini dipicu oleh meroketnya harga barang-barang impor (imported inflation) yang lambat laun akan merembet ke produk lokal dan kebutuhan pokok masyarakat.

Kondisi ini dinilai sangat rentan bagi golongan ekonomi menengah ke bawah, pelaku UMKM, pekerja paruh waktu, hingga Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berpenghasilan tetap. Daya beli mereka terancam melemah drastis jika harga kebutuhan pokok tidak terkendali. ​”Pemerintah harus segera menyiapkan buffer stock (stok penyangga) dan langkah mitigasi yang konkret untuk mengamankan sektor riil,” tegas Puspa Negara.

Baca Juga:   Dari Koperasi Banjar ke Aset Rp107 Miliar, Ngardi Rahayu Jadi Contoh Kemandirian Ekonomi Adat

​Guna meredam pelemahan Rupiah, Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan Gubernur Perry Warjiyo dilaporkan telah mengambil langkah intervensi pasar atau “suntikan” likuiditas yang diperkirakan mencapai Rp2 triliun setiap harinya. Langkah ini diharapkan mampu mengoptimalkan penguatan kembali nilai tukar rupiah pada bulan Juli mendatang.

​Selaku masyarakat dan pelaku usaha, Puspa Negara percaya bahwa Bank Indonesia serta Menteri Keuangan mampu mengembalikan stabilitas mata uang nasional. Targetnya, Rupiah diharapkan dapat ditekan kembali ke kisaran angka fundamental APBN, yaitu sekitar Rp16.500 per dolar AS pada periode Juni, Juli, hingga Agustus mendatang. (BC18)