Menembus Batas di Ombak Kuta: Kisah Surfer Tunarungu Rayakan Semangat Kartini

0
17
Kuta
Dua perempuan peselancar berkostum kebaya saat menjajal ombak Pantai Kuta. (ist)

balibercerita.com –
Gelombang pagi di Pantai Kuta, Minggu (19/4), menjadi saksi semangat inklusivitas dalam ajang Kartini Go Surf 2026. Di antara deretan peselancar perempuan berkebaya, hadir pula para surfer tunarungu yang tampil percaya diri, menyatu dengan ombak tanpa batas.

Salah satunya adalah Intan (21), yang kembali merasakan euforia berdiri di atas papan selancar. Baginya, momentum Hari Kartini kali ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang pembuktian bahwa perempuan, termasuk mereka dengan keterbatasan pendengaran, mampu menaklukkan tantangan.

Didampingi penerjemah, Intan mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali ikut serta. Ketertarikannya pada surfing tumbuh sejak 2022, berawal dari hobi yang kemudian berkembang berkat dukungan teman-temannya. Mengenakan kebaya pun tak menjadi hambatan, ia tetap leluasa bergerak mengikuti ritme ombak.

Baca Juga:   Nikmati Ikan Bakar Kedonganan Dengan Harga Lebih Terjangkau

Bersama rekan-rekannya dari Yayasan Corti Bali, Intan menjadi bagian dari wajah baru olahraga selancar yang lebih inklusif. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan simbol bahwa ruang publik, termasuk laut, terbuka bagi siapa saja.

Di balik itu, komunikasi menjadi kunci. Made Windawan dari Rumah Berdaya Taman Sari menjelaskan bahwa seluruh instruksi dilakukan secara visual, melalui gerakan dan bahasa isyarat. “Tidak ada suara yang digunakan. Semua mengandalkan visual dan gestur, serta bahasa isyarat Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:   Smart Stay di Legian, Solusi Liburan di Bali yang Simpel dan Bernilai

Semangat para peserta pun menuai kekaguman dari penggagas kegiatan, Bagus Made Irawan alias Piping. Ia menyaksikan langsung bagaimana para surfer tunarungu menjalani latihan panjang tanpa keluhan, dari pagi hingga matahari terbenam. “Mereka menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Tidak ada yang menyerah,” katanya.

Ketua Yayasan Corti Bali, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari melihat laut sebagai ruang yang adil, tempat di mana setiap orang berdiri setara di hadapan ombak. Menurutnya, keterlibatan peserta tunarungu menjadi wujud nyata solidaritas tanpa sekat.

Baca Juga:   Biku, Jagoan Baru Kuliner di Bandara Ngurah Rai

Sejak pertama kali dilibatkan pada 2021, jumlah peserta terus bertambah. Antusiasme yang tinggi mendorong pihaknya untuk terus membuka ruang pengembangan, bahkan hingga peluang menjadi peselancar profesional.

Lebih jauh, ia menaruh harapan besar agar Bali suatu hari bisa menjadi tuan rumah ajang International Deaf Surfing Competition. Sebuah langkah yang tak hanya mengangkat pariwisata, tetapi juga memperluas panggung bagi peselancar tuli untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Di tengah debur ombak Kuta, pesan itu mengalir jelas, bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan cara berbeda untuk merayakan kebebasan. (BC5)