Tak Berhenti Berkarya, Komunitas Soko Guru Gelar Pameran “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery

0
13
Pameran Tutur Ayu
Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster berfoto bersama seniman di sela-sela pembukaan pameran “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery. (ist)

balibercerita.com –
Kelompok seniman sekaligus pendidik yang tergabung dalam Kelompok Soko Guru menggelar pameran seni lukis bertajuk “Tutur Ayu” di Griya Santrian Art Gallery, kawasan Sanur, Denpasar, Jumat (6/3). Pameran ini menampilkan karya tiga perupa Bali yang juga dikenal sebagai guru seni yakni I Ketut Marra, I Wayan Santrayana, dan I Gede Budiartha.

Pameran yang akan berlangsung hingga 30 April 2026 tersebut secara resmi dibuka oleh Putri Suastini Koster. Sebanyak 18 karya lukisan dipamerkan sebagai refleksi perjalanan panjang para seniman dalam berkarya sekaligus mengabdikan diri sebagai pendidik seni.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Suastini Koster mengatakan bahwa Tutur Ayu dalam kehidupan orang Bali merupakan sebuah wejangan atau petuah yang digunakan sebagai landasan dalam menjalani hidup. Menurutnya, melalui pameran bertajuk Tutur Ayu ini, generasi penerus dapat mempelajari berbagai dinamika kehidupan dan budaya masyarakat yang mulai bergeser melalui goresan tangan para perupa di atas kanvas.

“Ruang-ruang perupa itu masih ada. Idealisme dan tutur-tutur itu bisa diguratkan lewat karya-karya seni. Saya berharap para seniman perupa Bali tetap memiliki idealisme yang tinggi,” ungkapnya.

Baca Juga:   Puncak Karya Melaspas Palinggih di Pura Kahyangan Jagat Batu Bolong

Tutur Ayu, lanjut Putri Koster, harus menjadi pegangan hidup masyarakat Bali agar nilai-nilai budaya yang terkandung dalam filosofi tersebut tetap terjaga, ajeg, dan lestari secara turun-temurun bagi generasi selanjutnya.

Sementara itu, penulis, I Made Susanta Dwitanaya menjelaskan, pameran ini lahir dari perjalanan panjang pengabdian para seniman yang tidak hanya aktif berkarya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pengetahuan dan kebijaksanaan kepada generasi muda. Menurutnya, dalam perjalanan pengabdian para seniman tersebut terdapat jejak-jejak sunyi yang terus hidup melalui karya dan nilai yang diwariskan. Semangat itulah yang melatarbelakangi tiga seniman yang juga telah memasuki masa purna tugas sebagai guru untuk tetap berkarya melalui pameran bersama.

Kelompok Soko Guru sendiri dimaknai sebagai tiang penyangga utama yang melambangkan peran guru sebagai fondasi pengetahuan, penutur nilai, sekaligus penjaga kebijaksanaan melalui karya seni. Melalui wadah ini, ketiga perupa tersebut berupaya menjaga nilai pengetahuan dan kebijaksanaan yang berakar kuat pada budaya Bali. “Soko Guru menjadi wadah bersama bagi ketiga seniman dalam pengabdian, menjaga nilai pengetahuan dan kebijaksanaan yang berakar kuat pada budaya,” ujarnya.

Baca Juga:   IndiGo Airlines Resmikan Penerbangan Langsung Mumbai–Bali

Tutur Ayu sebagai judul pameran bermakna sebagai pernyataan artistik yang berakar pada kesadaran bahwa seni adalah bahasa yang tak pernah pensiun. Para guru seni telah mengabdikan sebagian besar hidupnya pada misi mengajarkan dan mengembangkan pengetahuan bagi setiap generasi. Terlebih dalam konteks Bali sebagai wilayah yang kuat dengan warisan nilai, pengetahuan, hingga praktik berkesenian, yang di dalamnya terkandung pesan simbolik dan filosofis. “Tutur Ayu bermakna bahwa setiap karya yang dihadirkan berupaya membawa pesan serta petuah yang sarat moralitas dan kebijaksanaan bagi generasi hari ini,” tambahnya.

Dalam pameran ini, masing-masing seniman menampilkan karakter karya yang berbeda
I Ketut Marra menampilkan karya-karyanya yang berkarakter khas. Elemen-elemen rupa seperti garis, warna, tekstur, hingga komposisi membentuk struktur visual yang kuat. Tema-tema karyanya merepresentasikan alam dan budaya Bali, diolah melalui kekuatan interpretasi terhadap bentuk dan suasana.

Karya-karya Ketut Mara bukan sekadar salinan realitas, melainkan menghadirkan aura dan kekuatan estetik yang matang dalam konteks seni lukis. Disamping itu, pada setiap karya yang dihadirkannya terselip refleksi kritis tentang kehidupan sosial budaya hingga pada persoalan bagaimana diri di tengah hidup yang penuh godaan.

Baca Juga:   Sekda Badung Buka Taman Ayun Barong Festival Superstar 2025

Sementara itu, I Wayan Santrayana menghadirkan karya yang bentuknya terdeformasi menjadi bahasa visual yang khas, menghadirkan figur dan objek yang sarat ekspresi. Tema-tema karyanya merepresentasikan budaya Bali, namun di baliknya terkandung pesan kritis dan reflektif mengenai relasi manusia dengan alam, dinamika sosial-budaya, hingga spiritualitas.

Berbeda dengan keduanya, I Gede Budiartha lebih menonjolkan kecenderungan abstraksi dalam karya-karyanya. Meskipun secara komposisional tampak abstrak, di dalamnya tetap hadir representasi objek yang dapat dikenali, meskipun terkadang terpiuh atau luruh dalam ekspresi warna, gestural, dan pengolahan garis. Melalui karya-karyanya Budiartha menghadirkan tema-tema yang dalam, menyoal soal rasa dan berbagai dinamikanya.

Melalui pameran “Tutur Ayu”, semangat pengabdian ketiga seniman tersebut juga menunjukkan bahwa swadarma sebagai pendidik tidak berhenti setelah memasuki masa pensiun. Mereka tetap menjalankan peran sebagai guru bagi masyarakat melalui karya-karya seni yang terus lahir dari kematangan pengalaman dan kebijaksanaan hidup. (BC18)