Satgas Kuta Turun ke Rumah Kos, Edukasi Sampah Kini Menyasar Pendatang dan Pedagang

0
18
Edukasi pemilahan sampah
Salah satu rumah kos yang ditempeli informasi pararem sampah dan jadwal pembuangan sampah di Desa Adat Kuta. (ist)

balibercerita.com
Penanganan sampah di kawasan Kuta mulai bergerak lebih masif hingga menyentuh rumah kost dan tempat usaha warga. Tidak hanya fokus memburu pembuang sampah liar, satgas kecamatan bersama desa adat kini turun langsung memberikan edukasi pemilahan sampah kepada para pendatang dan pedagang.

Langkah tersebut dilakukan melalui sidak gabungan yang melibatkan pecalang, aparat lingkungan, serta satgas desa adat di masing-masing banjar. Selain mendata penduduk non permanen, petugas juga menyosialisasikan aturan pengelolaan sampah dan pentingnya memilah sampah dari sumbernya.

Sekretaris Camat Kuta, Made Agus Suantara mengatakan bahwa pola penanganan sampah saat ini diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah kecamatan, kelurahan dan desa adat agar pengawasan lebih efektif hingga tingkat lingkungan terkecil. Satgas terdiri dari kepala lingkungan, kelian banjar, pecalang banjar, dan krama banjar.

Baca Juga:   ARFF Challenges 2025, Cara Bandara Ngurah Rai Latih Tim Pemadam Hadapi Situasi Darurat

“Untuk penanganan sampah kita optimalkan kolaborasi dengan desa adat melalui satgas masing-masing. Satgas di tiap banjar langsung turun melakukan edukasi pemilahan sampah sekaligus pendataan krama tamiu di wilayahnya,” ujarnya, Senin (11/5).

Menurutnya, rumah kos dan pedagang menjadi perhatian khusus karena dinilai menjadi salah satu penyumbang produksi sampah cukup besar di kawasan Kuta. Meski sebagian warga sudah mulai memilah sampah, masih ditemukan pendatang maupun pelaku usaha yang belum disiplin menjalankan aturan tersebut.

Baca Juga:   Trafik Jalan Tol Bali Mandara Diperkirakan Meningkat 

Karena itu, edukasi dilakukan secara door to door dengan membagikan selebaran hingga menempelkan informasi terkait jadwal pembuangan sampah dan pararem desa adat di area kost maupun tempat usaha. “Kami terus gencarkan pendataan dan edukasi. Sasaran utamanya pendatang di rumah kos dan para pedagang. Ada yang sudah memilah sampah, tapi masih ada juga yang belum,” jelasnya.

Program edukasi tersebut kini mulai diterapkan di sejumlah wilayah seperti Banjar Pemamoran dan Banjar Buni, Desa Adat Kuta. Pemerintah kecamatan berharap seluruh desa adat di wilayah Kuta dapat menerapkan pola serupa agar pengelolaan sampah lebih maksimal dan merata.

Baca Juga:   Koster dan Rano Karno Buka Travel Exchange BBTF 2025

Selain edukasi, pihak kecamatan juga menyoroti mulai berkurangnya jasa pengangkut sampah mandiri di masyarakat. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu munculnya pembuangan sampah liar apabila tidak segera diantisipasi. “Sekarang cukup banyak jasa pengangkut sampah yang menghilang. Karena itu kami sarankan masyarakat bekerja sama dengan pihak ketiga dan yang paling penting wajib melakukan pemilahan sampah dari rumah,” tegasnya.

Melalui kolaborasi berbasis desa adat ini, penanganan sampah di Kuta diharapkan tidak hanya mengandalkan penertiban, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama. (BC5)