Konten Receh Selalu Menang? Mungkin Masalahnya Bukan pada Penontonnya

0
3
Konten receh
Ilustrasi seseorang tengah mengakses medsos. (ist)

balibercerita.com –
Di media sosial, konten serius sering kalah jauh dari konten receh berdurasi 15 detik. Tulisan panjang tenggelam, sedangkan video orang terpeleset, drama pasangan, atau potongan obrolan tidak penting justru menembus jutaan penonton dalam hitungan jam.

Fenomena ini sering membuat banyak orang menyimpulkan bahwa publik semakin malas berpikir. Penonton dianggap hanya menyukai hiburan kosong dan tidak lagi tertarik pada hal-hal berkualitas. Namun persoalannya sebenarnya tidak sesederhana itu. Masalah utamanya mungkin bukan karena orang semakin bodoh, melainkan karena internet modern memang dirancang untuk membuat orang terus scrolling, bukan terus berpikir.

Platform media sosial hidup dari perhatian pengguna. Semakin lama seseorang bertahan di aplikasi, semakin besar keuntungan yang didapat platform dari iklan dan aktivitas digital lainnya. Maka dari itu, algoritma akan lebih memprioritaskan konten yang cepat memancing emosi, ringan dikonsumsi, dan mudah dipahami dalam beberapa detik.

Baca Juga:   Trafik Lalin di Tol Bali Mandara Melonjak Saat Libur Lebaran 2024

Konten receh memenuhi semua syarat tersebut. Ia tidak membutuhkan konsentrasi tinggi. Tidak menuntut pembaca atau penonton berpikir terlalu lama. Tidak melelahkan otak setelah seharian bekerja atau belajar. Dalam kondisi mental yang sudah penat, banyak orang memang lebih memilih hiburan singkat dibanding pembahasan berat.

Pengamat media sosial sekaligus praktisi komunikasi digital, Nukman Luthfie pernah menyinggung bahwa perilaku pengguna internet saat ini cenderung menyukai sesuatu yang cepat, ringkas, dan mudah dipahami. Menurutnya, pola konsumsi digital memang berubah seiring derasnya arus informasi di media sosial.

Di sisi lain, konten berkualitas sering datang dengan “beban” lebih besar. Artikel panjang membutuhkan fokus. Video edukasi memerlukan waktu dan perhatian lebih lama. Podcast informatif tidak bisa dinikmati sambil scrolling cepat. Akibatnya, banyak konten bagus kalah bukan karena isinya buruk, tetapi karena formatnya tidak cocok dengan budaya internet hari ini.

Baca Juga:   Kecerdasan Buatan Berkembang, Generasi Muda Harus Siap Hadapi Perubahan

Media sosial modern bekerja seperti makanan cepat saji digital. Konten pendek, sensasional, lucu, atau penuh drama menjadi pilihan utama karena memberi kepuasan instan. Sementara, konten mendalam lebih mirip makanan sehat yang bermanfaat, tetapi membutuhkan waktu untuk dinikmati.

Fenomena ini juga berkaitan dengan perubahan cara manusia mengonsumsi informasi. Dulu orang datang ke internet untuk mencari informasi. Sekarang banyak orang datang untuk mencari distraksi. Psikolog, Kasandra Putranto juga pernah menjelaskan bahwa media sosial dapat memicu kebiasaan mencari hiburan instan karena otak cenderung menyukai stimulasi cepat yang memberi rasa senang sesaat. Kondisi itu membuat orang lebih mudah tertarik pada konten ringan dibanding pembahasan panjang yang membutuhkan fokus lebih lama.

Setelah berjam-jam menghadapi pekerjaan, kemacetan, tekanan ekonomi, dan rutinitas yang melelahkan, tidak semua orang punya energi mental untuk mencerna pembahasan berat setiap saat. Oleh karena itu, konten receh sering menjadi pelarian paling mudah.

Baca Juga:   Nyepi dan Idul Fitri Berdekatan, Kuta Selatan Perkuat Toleransi Lewat Rakor Lintas Agama

Namun bukan berarti masyarakat sepenuhnya anti terhadap konten berkualitas. Faktanya, banyak video edukasi tetap bisa viral jika dikemas dengan cara yang menarik, singkat, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan pada rendahnya minat belajar, melainkan pada cara penyampaian.

Konten berkualitas hari ini tidak cukup hanya informatif. Ia juga dituntut mampu bersaing dalam perebutan perhatian yang sangat brutal. Di era ketika ribuan video muncul setiap menit, kualitas saja sering tidak cukup. Konten terbaik belum tentu menang. Yang paling cepat menarik perhatian biasanya justru lebih unggul.

Oleh karena itu, menyalahkan penonton sepenuhnya mungkin terlalu mudah. Sebab pada akhirnya, publik hanya mengonsumsi apa yang terus-menerus didorong oleh algoritma dan algoritma tidak pernah benar-benar peduli apakah sebuah konten membuat orang lebih pintar atau tidak. Yang penting, orang tetap menonton. (BC13)