balibercerita.com –
Konferda dan Konfercab PDI Perjuangan Bali yang digelar pada Sabtu (18/10) kembali menetapkan kembali Dr. Ir. Wayan Koster, M.M., sebagai Ketua DPD PDI Perjuangan Bali masa bakti 2025-2030. Acara yang berlangsung di Bali Sunset Road Convention Center ini sekaligus mengukuhkan seluruh ketua DPC kabupaten/kota se-Bali.
Dalam kesempatan itu, partai moncong putih juga konsisten memberikan ruang kepada kaum perempuan untuk duduk pada posisi strategis struktur partai. Salah satu sosok yang menarik perhatian adalah Ni Putu Cynthya Indraningsih, B.A. (Hons). Perempuan muda asal Jimbaran ini kembali dipercaya menempati posisi Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Bali, melanjutkan kiprahnya di dunia politik yang telah dijalaninya dengan tenang dan konsisten.
Tidak banyak bicara, tapi selalu hadir dengan kinerja yang nyata. Cynthya menjadi contoh kader perempuan yang tumbuh dalam nilai, bukan sekadar nama. Ia adalah putri sulung dari almarhum I Made Sujana, BAE, tokoh senior PDI Perjuangan di Badung.
“Sejak kecil saya mengenal PDI Perjuangan bukan sebagai partai, tapi sebagai rumah perjuangan,” ucapnya lembut, menggambarkan kedekatan batinnya dengan ideologi partai.
Meski menempuh pendidikan di Glion Institute of Higher Education, Switzerland, salah satu kampus bergengsi dunia di bidang hospitality management, Cynthya memilih pulang dan mengabdi di tanah kelahirannya. Ia bergabung dalam Nirmala Group, usaha keluarga yang telah melalui perjalanan panjang di sektor ritel dan jasa.
“Nirmala sudah menghadapi fase merintis, bertahan, jatuh, lalu bangkit lagi. Dari situ saya belajar bahwa proses adalah bagian dari keteguhan,” ujarnya.
Bagi Cynthya, politik dan bisnis bukan dua dunia yang bertolak belakang, melainkan dua ruang belajar yang saling menguatkan. Dalam politik, ia belajar kesabaran dan strategi; dalam bisnis, ia mempraktikkan disiplin dan ketegasan. Pandangannya sederhana namun tajam. “Sebagai pengusaha juga kita harus berpikir bagaimana menciptakan masa depan dengan harga sekarang,” katanya.
Sebagai kader perempuan, Cynthya melihat PDI Perjuangan sebagai ruang yang memberi kesempatan luas bagi perempuan untuk memimpin dan berperan. “Partai ini selalu membuka ruang bagi perempuan yang mau bekerja. Itu yang membuat saya merasa bertumbuh di dalamnya,” tuturnya.
Dalam pandangannya, tantangan Bali ke depan tidak hanya tentang pariwisata, tetapi tentang kualitas manusia dan keberanian menjaga identitas budaya di tengah perubahan. “Generasi muda harus paham bahwa semua butuh proses. Tidak ada yang instan. Perempuan juga harus berani maju dan menghadapi masalah, karena selalu ada harapan di setiap kendala,” ujarnya.
Di luar politik, Cynthya aktif dalam kegiatan ekonomi kreatif dan kebudayaan Bali. Ia kerap dipercaya menjadi Koordinator Lomba Barista Kopi Bali dan Mixology Arak Bali, ajang yang menyatukan tradisi dengan semangat inovasi anak muda.
Cynthya bukan sosok yang gemar tampil di depan panggung. Ia memilih bekerja dalam diam, dengan hasil yang berbicara. Tenang dalam sikap, teguh dalam prinsip, dan tulus dalam langkah. Perempuan muda Bali ini menjadi potret generasi baru dalam politik, yang tidak menunggu gelombang untuk datang, tapi menciptakan arah dengan keyakinan dan kerja nyata. (BC5)



















