Diduga Sampah “Titipan”, Kantong Plastik Menumpuk di Jalur Pedestrian Pantai Kuta

0
1
Sampah Kuta
Salah satu titik yang menjadi lokasi penumpukan sampah di Pantai Kuta. (ist)

balibercerita.com –
Fenomena penumpukan sampah kembali terjadi di kawasan Pantai Kuta. Sejumlah kantong plastik dan besek berisi sampah terlihat diletakkan di beberapa titik dekat jalur pedestrian pada Minggu (19/4) pagi. Pola penempatannya yang tersebar di titik-titik strategis memunculkan dugaan adanya praktik pembuangan sampah secara sengaja oleh pihak tak bertanggung jawab.

Tumpukan sampah tersebut terlihat di sekitar coffee shop hingga area dekat gate parkir skatepark, bahkan meluas hingga sisi selatan kawasan. Kondisi ini sempat mengganggu estetika kawasan wisata yang dikenal sebagai ikon pariwisata Bali.

Baca Juga:   Bandara Ngurah Rai Beroperasi 24 Jam Sehari Selama Periode Nataru

Pengelola DTW Pantai Kuta, I Nyoman Arya Arimbawa membenarkan adanya penumpukan sampah tersebut. Ia menyebut proses pengangkutan sudah mulai dilakukan sejak Senin (20/4) dini hari. Beberapa titik seperti di depan coffee shop dan gate parkir skatepark sudah terangkut, tapi masih ada yang tersisa di depan hotel perbatasan dengan Legian.

Meski demikian, proses pembersihan belum sepenuhnya tuntas. Arya mengakui keterbatasan armada menjadi kendala utama. Saat ini, pihaknya hanya mengandalkan tujuh truk sewaan yang belum mampu mengangkut seluruh volume sampah dengan cepat. “Kendalanya karena kesiangan. Kami masih menunggu tambahan armada, termasuk koordinasi dengan DLHK,” terangnya.

Baca Juga:   Nenek Asal Batanbuah Menghilang dengan Kondisi Hilang Ingatan 

Ia menambahkan, berdasarkan hasil pengecekan petugas, jenis sampah yang menumpuk didominasi residu dan campuran yang diduga berasal dari luar kawasan. Selama ini, pengelola rutin mengangkut sampah organik setiap hari, namun dalam waktu singkat timbunan kembali muncul. “Indikasinya sampah dari luar. Ini sudah kami koordinasikan dengan bendesa adat dan kelurahan untuk ditindaklanjuti bersama,” tegasnya.

Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana menyatakan proses pengangkutan masih terus berlangsung. Pihaknya juga tengah berupaya mencari tambahan armada untuk mempercepat pembersihan. Penumpukan sampah ini tidak lepas dari ulah oknum yang membuang sampah secara sembarangan di kawasan tersebut. “Ada orang-orang yang tidak terlihat membuang sampah ke sana,” ujarnya.

Baca Juga:   DPRD Badung Terima Kunjungan Mahasiswa FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Bahas Strategi Digitalisasi dan Pelayanan Publik

Ia juga menjelaskan bahwa pengangkutan dilakukan melalui sistem berbagi armada antara desa adat dan DLHK, dengan biaya sewa truk mencapai sekitar Rp1,5 juta per unit. Sampah yang telah dipilah kemudian akan diarahkan ke fasilitas pengolahan, seperti TPST Mengwitani untuk sampah organik dan TPST Padang Seni untuk jenis lainnya. (BC5)