Januari hingga November 2025, Ekspor Bali Tembus Rp4,07 Triliun

0
98
Ekspor Bali
Gambar satuan pelayanan Karantina Bali. (ist)

balibercerita.com —
Kinerja ekspor Bali sepanjang Januari hingga November 2025 mencatatkan capaian gemilang. Karantina Bali telah menerbitkan 37.350 sertifikat ekspor dengan total nilai mencapai Rp4,07 triliun. Tidak hanya menunjukkan geliat perdagangan produk lokal, capaian ini sekaligus menegaskan peran strategis karantina dalam menjaga keamanan hayati di tengah aktivitas ekspor yang terus meningkat.

Komoditas unggulan yang dikirim ke berbagai negara antara lain benih bandeng, kerapu konsumsi, benih kerapu, ikan hias, manggis, vanili, kopi, DOC, hingga telur tetas. Pergerakan ekspor tersebut juga menghasilkan PNBP senilai Rp6,2 miliar, dengan negara tujuan meliputi China, Amerika Serikat, Jerman, Singapura, Filipina, Timor Leste, Prancis, hingga Uni Emirat Arab.

Baca Juga:   Pelajar Asal NTT Terseret Arus di Pantai Berawa

Kepala Karantina Bali, Heri Yuwono dalam kegiatan Refleksi Tahun 2025 Karantina Denpasar menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar laporan kinerja, melainkan momentum untuk menyampaikan peran penting perkarantinaan dalam melindungi sumber daya alam hayati Indonesia dari ancaman hama dan penyakit. “Pelaksanaan tugas karantina tidak hanya soal pelayanan, tetapi bagian dari sistem pertahanan negara. Pencegahan masuknya hama dan penyakit berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan, keberlanjutan sektor pertanian, peternakan, perikanan, serta perlindungan kesehatan manusia,” ujarnya, Rabu (24/12).

Yuwono menjelaskan, tugas karantina kini mengacu pada UU No. 21/2019 yang memperluas fungsi karantina bukan hanya pencegahan penyakit, tetapi juga pengawasan mutu, keamanan pangan, pakan, serta perlindungan sumber daya genetik. Dengan mandat yang semakin komprehensif ini, karantina memiliki peran vital dalam memastikan produk ekspor Bali memenuhi standar internasional.

Baca Juga:   Alit Putra Kembali Pimpin PMI Bali, Fokus Lanjutkan Penguatan Layanan Kemanusiaan

Karantina Bali juga menegaskan komitmennya mendukung Asta Cita kedua hingga keenam, terutama melalui program akselerasi ekspor. Upaya ini dilakukan dengan membuka akses pasar baru dan mendorong ekspor langsung dari daerah, sehingga nilai ekspor tercatat sebagai ekspor Bali, bukan daerah transit.

Untuk memperkuat pelayanan publik, Badan Karantina Indonesia mengembangkan sistem digital BESTTRUST (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology). Sistem ini memudahkan pelaku usaha mengajukan layanan karantina secara elektronik, cepat, dan efisien. Hingga saat ini, sistem tersebut telah digunakan oleh 1.043 pengguna, menandakan respons positif dunia usaha terhadap digitalisasi layanan.

Baca Juga:   Tim SAR Kerahkan Segala Upaya Cari Korban Tenggelam di Pantai Kedonganan

Refleksi kinerja Karantina Bali dinilai penting karena Bali merupakan destinasi wisata internasional dengan arus keluar-masuk manusia dan barang yang sangat tinggi. Masuknya hama atau penyakit karantina, terutama yang menular ke manusia, berpotensi berdampak pada kepercayaan wisatawan, aktivitas pertanian, peternakan, hingga perikanan, dan pada akhirnya dapat menurunkan nilai ekspor serta mengancam ketahanan pangan.

Dengan capaian ekspor yang kuat, modernisasi sistem layanan, dan penguatan fungsi karantina, Karantina Bali menegaskan komitmennya menjaga keamanan hayati sebagai fondasi utama keberlanjutan ekonomi Bali. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini