Jaga Wajah Jimbaran, Warga hingga Pecalang Turun Malam Awasi Sampah Liar

0
25
Jimbaran
Petugas saat berjaga di salah satu titik di Jalan Bypass Ngurah Rai, Jimbaran. (ist)

balibercerita.com
Saat sebagian besar warga terlelap, sejumlah tokoh dan elemen masyarakat di Jimbaran justru memilih berjaga hingga dini hari. Dari pukul 21.00 Wita hingga 05.00 Wita, mereka berjaga di titik-titik rawan tumpukan sampah di sepanjang Jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai.

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk keseriusan Jimbaran dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus menghentikan praktik pembuangan sampah liar oleh oknum tak bertanggung jawab. Fenomena “tumpangan sampah” memang menjadi persoalan yang cukup meresahkan.

Jalur protokol yang setiap hari dipadati kendaraan itu kerap berubah menjadi lokasi pembuangan instan, terutama pada malam hingga dini hari. Di beberapa sudut jalan kawasan Perarudan, tumpukan sampah bahkan sering muncul tanpa diketahui siapa pelakunya.

Berangkat dari keresahan itu, berbagai unsur di Jimbaran bergerak bersama. Bendesa, lurah, Ketua LPM, prajuru adat, pecalang, kelihan adat banjar, kepala lingkungan (kaling), hingga tiga lembaga keamanan desa dan organisasi Jimbaran Bersatu turun langsung melakukan penjagaan. Mereka bersinergi mengawasi titik rawan sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih disiplin dalam mengelola sampah.

Baca Juga:   Libur Idul Adha, Penumpang di Bandara Ngurah Rai Lampaui Proyeksi

Kepala Lingkungan Perarudan, Made Dharmayasa mengatakan, pengawasan yang mulai dilakukan sejak Senin (4/5) tersebut langsung menunjukkan hasil. Dalam beberapa hari pelaksanaan, hampir 20 pelaku pembuangan sampah liar berhasil ditemukan di wilayah Perarudan. Sebagian besar diketahui merupakan pelaku usaha kecil yang membuang sampah saat perjalanan pulang usai berjualan.

“Banyak di antaranya penjual lalapan. Saat jam tutup dan jalan pulang, mereka membuang begitu saja pada titik-titik yang dirasa aman. Sampah-sampah ini juga belum terpilah,” ujarnya.

Sesuai Perarem Desa Adat Jimbaran, pelaku sebenarnya dapat dikenakan denda hingga Rp25 juta. Namun sebagian besar memilih membawa kembali sampahnya masing-masing. Bahkan ada pula yang diberikan sanksi tambahan berupa ikut mengangkut sampah lain yang sudah terlanjur menumpuk di lokasi. Cara ini dinilai lebih efektif untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.

Baca Juga:   Dua Bulan Lagi, Bangunan di Pinggir Tukad Mati Legian Dibongkar Total

Menurut Dharmayasa, perubahan mulai terasa sejak pengawasan dilakukan secara intensif. Titik-titik yang sebelumnya dipenuhi sampah kini perlahan bersih dari tumpukan baru. Viralnya video pengawasan di media sosial juga disebut memberi dampak besar terhadap meningkatnya kesadaran masyarakat. “Sejak viral, penurunannya sangat signifikan. Saat penjagaan semalam, sama sekali tidak ada pelaku yang berani buang sampah sembarangan di titik rawan Jalan By Pass Ngurah Rai wilayah Perarudan,” katanya.

Keseriusan Jimbaran tidak berhenti pada pengawasan saja. Tumpukan sampah liar yang terlanjur menggunung juga langsung dieksekusi melalui koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung. Sampah-sampah tersebut diangkut menuju TPST Mengwitani dalam kondisi sudah dipilah. Karena sebagian sampah telah menumpuk dan berbelatung, pihak lingkungan bahkan menggandeng transporter jasa pengangkut sampah lokal untuk membantu proses pemilahan sebelum dibawa ke TPST.

Baca Juga:   BRI Tingkatkan Fasilitas Belajar dan Berikan Beasiswa untuk Siswa SDN 1 Belimbing

Selain itu, warga dan pelaku usaha di sepanjang jalur protokol juga diimbau agar tidak lagi menaruh sampah di depan rumah maupun tempat usaha. Sebab keberadaan kantong sampah di pinggir jalan dinilai menjadi “pemancing” bagi orang lain untuk ikut menitipkan sampah sembarangan. Saat ini, masyarakat yang belum berlangganan jasa angkut sampah diwajibkan membawa sendiri sampah mereka ke titik pengumpulan di Wantilan Kuari Jimbaran dengan kondisi sudah terpilah.

Melalui gerakan bersama ini, Jimbaran berharap persoalan tumpukan sampah liar bisa ditekan secara berkelanjutan. Bagi masyarakat setempat, menjaga kebersihan jalan protokol bukan sekadar urusan lingkungan, melainkan juga menjaga wajah Jimbaran sebagai kawasan yang setiap hari dilintasi masyarakat dan wisatawan. “Mudah-mudahan menjaga kebersihan bisa menjadi budaya bersama,” harap Dharmayasa. (BC5)