Industri F&B Tumbuh 6,51 Persen, Bali Interfood Jadi Ruang Hadapi Tantangan Global

0
10
F&B
Suasana press conference Bali Interfood 2026. (ist)

balibercerita.com –
Industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) nasional masih menunjukkan kinerja positif di tengah berbagai tekanan global. Pada semester I 2026, sektor ini tumbuh 6,51 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, pelaku industri menilai tantangan ke depan tidak semakin ringan. Kondisi geopolitik, perubahan iklim, hingga dinamika regulasi global menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi industri F&B. Oleh karena itu, penguatan kolaborasi dan jejaring antarpemangku kepentingan menjadi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Ketua Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adi S. Lukman mengatakan, Bali Interfood menjadi salah satu momentum penting untuk mempertemukan berbagai pelaku dalam ekosistem industri makanan dan minuman. “Pertumbuhan industri makanan dan minuman pada semester I 2026 mencapai 6,51 persen. Ini tumbuh lebih tinggi dari ekonomi nasional. Tetapi tantangan kita masih banyak, mulai dari geopolitik, climate change, berbagai regulasi dan kegiatan global lainnya yang berpengaruh terhadap industri makanan dan minuman,” ujarnya, Senin (31/8)

Baca Juga:   Bupati dan Wabup Badung Genjot Potensi Kopi di Agro Techno Park Petang

Menurutnya, pameran seperti Bali Interfood tidak semata-mata menjadi tempat memperkenalkan produk. Lebih dari itu, kegiatan tersebut membuka ruang bagi pelaku industri untuk bertemu, bertukar pengalaman, berdiskusi, serta membangun komunikasi dan peluang kerja sama. “Kehadiran Interfood tahun ini sangat bagus karena memberikan ruang bagi para pemangku kepentingan untuk saling bertemu, berbagi pengalaman, berdiskusi dan berkomunikasi dalam menghadapi tantangan saat ini,” katanya.

Ia berharap forum tersebut dapat mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk. Dengan semakin kuatnya industri F&B, kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional juga diharapkan semakin besar.

Baca Juga:   BBTF 2026 Gaet 407 Buyer dari 44 Negara

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menilai keberlanjutan Bali Interfood di Bali menjadi hal positif bagi industri pariwisata dan hospitality. Menurutnya, pameran tersebut memberikan ruang strategis bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring bisnis sekaligus mempromosikan produk. Hal ini penting mengingat industri hospitality membutuhkan dukungan ekosistem F&B yang kuat dan beragam.

“Bukan hanya perdagangan produk makanan dan minuman. Semua pengusaha mendapatkan ruang strategis untuk memperkuat jejaring bisnis dan menjadi tempat promosi, sehingga memperkokoh daya saing industri hospitality di Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa kuliner memiliki posisi penting dalam membangun pengalaman wisatawan. Produk kuliner tidak hanya dinilai dari cita rasanya, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya dan kearifan lokal. “Kuliner bukan hanya makanan, tetapi pengalaman bagi wisatawan untuk mengetahui budaya, cita rasa dan pengalaman yang berbasis kearifan lokal,” jelasnya.

Baca Juga:   Anggota Dewan Tekankan Investasi Pemkab Badung Harus Bermuara pada Kesejahteraan Rakyat

Ia menegaskan bahwa PHRI berkomitmen mendukung keberlanjutan penyelenggaraan Bali Interfood. Dengan kualitas dan inovasi yang terus ditingkatkan, pameran tersebut dinilai dapat membantu menghadirkan keanekaragaman sekaligus diferensiasi bagi destinasi Bali.

Kolaborasi antara pelaku industri F&B, hospitality, logistik dan berbagai sektor pendukung lainnya dinilai menjadi salah satu kunci agar pertumbuhan industri dapat dipertahankan sekaligus diperluas di tengah perubahan ekonomi global. (BC5)