Mangupura, balibercerita.com –
Sebuah prosesi sakral berlangsung khidmat di Kabupaten Badung pada Senin (7/7), saat Anak Agung Gde Agung resmi menyandang gelar Ida Cokorda Mengwi XIII. Melalui upacara Abhiseka Ida Cokorda yang penuh makna spiritual, tokoh yang juga mantan Bupati Badung ini menerima gelar baru sebagai bagian dari kelanjutan tradisi leluhur.
Rangkaian prosesi diawali dengan mapeed, sebuah arak-arakan dari Puri Ageng Mengwi menuju Pura Taman Ayun sejauh sekitar 500 meter. Bhagawanta Puri bersama Ida Dalem Semaraputra (Raja Klungkung) diarak menuju pura dengan menggunakan gayot. Iring-iringan juga membawa dampar kencana (kursi Ida Cokorda), pusaka-pusaka puri, tapakan, serta panji petaka, diiringi tabuh semar pegulingan yang mengalun sepanjang perjalanan.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ribuan warga memadati jalanan menuju Pura Taman Ayun untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut, sebuah peristiwa langka yang sarat makna spiritual dan budaya.
Sesampainya di pura, Gde Agung mengikuti prosesi majaya-jaya, dilanjutkan dengan pemberian gelar yang dilakukan oleh Bhagawanta Ida Pedanda Gede Ketut Pemaron dan Ida Pedanda Gede Putra Pemaron Sidemen. Usai ritual, ia resmi menyandang gelar baru Ida Cokorda Mengwi XIII didampingi sang istri yang kini bergelar Ida Istri Mengwi.
Dalam sambutannya usai upacara, Ida Cokorda Mengwi XIII menyatakan, ritual ini bukan semata-mata soal gelar atau status sosial, melainkan lebih pada aspek spiritual dan tanggung jawab moral. “Ritual ini tidak semata-mata hanya berkaitan dengan status sosial, akan tetapi lebih kepada, saya tujukan kepada peningkatan tanggung jawab, khususnya tanggung jawab spiritual untuk menjaga keluhuran nilai-nilai agama Hindu dan adat istiadat Bali,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan, langkah ini sekaligus merupakan bentuk penghormatan dan meneruskan amanat dari kedua orang tuanya. Keduanya adalah Ida Cokorda Mengwi XII dan Ida Cokorda Istri Mengwi, yang telah wafat pada tahun 2000.
“Orang tua kami sudah meninggal tahun 2000 yang lalu. Semenjak tahun 2000 ada kekosongan Cokorda, tapi keluarga besar kami saat layon masih di puri telah membuat kesepakatan (agar) saya sebagai penglingsir Puri Mengwi,” paparnya.
Meski baru kini upacara abhiseka dapat dilaksanakan, Ida Cokorda Mengwi XIII berharap dapat mengemban tugas sosial dan spiritual yang melekat pada gelar tersebut. Ia memohon dukungan agar dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Oleh karena itu, perkenankan saya meminta doa restu dari hadirin sekalian, agar saya dapat melaksanakan tugas dan tangungjawab sosial tersebut dengan baik sehingga kehadirian saya dapat memberikan manfaat dan pelayanan serta menjaga eksistensi Puri Mengwi dalam kehidupan beragama dan berbudaya, adat istiadat di tengah kehidupan sosial,” imbuhnya.
Upacara agung ini turut disaksikan oleh para pangelingsir puri se-Bali, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Ketua DPD RI Sultan Najamudin, anggota DPD Bali, Wali Kota Denpasar, serta Bupati dan Wakil Bupati Badung, Gubernur Bali, dan sejumlah anggota DPRD Badung.
Sebagai bagian dari rangkaian upacara, penyucian hewan yang menjadi sarana dan prasarana upacara telah lebih dahulu digelar pada Sabtu (5/7), bertepatan dengan Saniscara Pon Matal, di Pura Taman Ayun. (BC9)
















