Dari Desa Penglipuran ke Forum Dunia, Kisah Mahasiswi Undiksha Menaklukkan Rasa Takut

0
2
Undiksha
Ni Luh Eka Setyawati. (ist)

balibercerita.com –
Tidak semua keberanian lahir dari rasa percaya diri. Kadang, keberanian justru tumbuh dari seseorang yang setiap hari berusaha melawan rasa takutnya sendiri. Itulah yang dialami Ni Luh Eka Setyawati, mahasiswi Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha. Di balik penampilannya yang sederhana dan tutur katanya yang lembut, tersimpan mimpi besar untuk melihat dunia lebih luas dari tempat ia dibesarkan.

Eka berasal dari Desa Penglipuran, desa yang dikenal dunia karena keindahan dan kearifan budayanya. Namun siapa sangka, gadis dari desa itu pernah berkali-kali meragukan dirinya sendiri.

Ia sering merasa belum cukup hebat untuk berada di lingkungan internasional. Takut salah bicara, takut tertinggal, bahkan takut gagal sebelum mencoba. Tetapi di tengah semua keraguan itu, Eka memilih satu hal yang sederhana namun sulit dilakukan banyak orang: tetap melangkah.

Baca Juga:   Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Resmikan Sekolah Lansia Werdha Santhi di Desa Batuan Kaler

Langkah kecil itu akhirnya membawanya menuju program internasional “MMSU InLeaD: Virtual Cultural and Gastronomic Exploration in the Ilocos Region, Philippines” yang diselenggarakan oleh Mariano Marcos State University pada 18–23 Mei 2026. Dalam program tersebut, peserta dari puluhan negara berkumpul untuk belajar budaya, bahasa, hingga kuliner khas Filipina. Di sana, Eka tidak hanya bertemu mahasiswa dari berbagai belahan dunia, tetapi juga bertemu dengan versi baru dari dirinya sendiri, sosok yang perlahan mulai percaya bahwa ia juga pantas berada di panggung internasional.

Baca Juga:   Guru Honorer Dihapus, Mendikdasmen Abdul Mu'ti: Untuk Penataan dan Atasi Ketimpangan Distribusi

Perjalanan itu tentu tidak mudah. Di sela-sela aktivitas kuliah, Eka harus membagi waktu mengikuti diskusi lintas negara, memahami materi program, hingga menyiapkan proyek akhir. Ada rasa lelah, gugup, dan tekanan untuk bisa tampil baik. Namun semua itu justru menjadi ruang belajar yang membentuk mentalnya semakin kuat.

Baginya, kompetisi bukan tentang siapa yang paling sempurna. Kompetisi adalah tentang siapa yang tetap berjalan meski dihantui rasa takut. “Kadang yang paling penting bukan menjadi yang paling sempurna, tetapi berani memulai dan mau belajar,” ujarnya, Rabu (20/5).

Baca Juga:   Undiksha Buka Jalur SNBT 2026, Peluang Masuk PTN Masih Terbuka

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam. Sebab banyak mimpi besar gagal diwujudkan bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena terlalu takut untuk mencoba.

Kini, Eka perlahan membuktikan bahwa mahasiswa dari daerah pun mampu berdiri sejajar dengan dunia. Dari sebuah desa di Bangli, ia membawa semangat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Karena pada akhirnya, perjalanan menuju mimpi besar selalu dimulai dari satu langkah kecil: keberanian untuk percaya pada diri sendiri. (BC5)