BMKG Sebut Angin Kencang di Bali Masih Tergolong Normal, Dipicu Monsun Australia

0
8
Angin kencang
Anemometer di Jalan Tol Bali Mandara. BMKG menyebut peningkatan kecepatan angin di Bali dalam beberapa hari terakhir masih dalam kategori normal. (ist)

balibercerita.com

Embusan angin yang terasa lebih kencang di berbagai wilayah Bali belakangan ini membuat masyarakat bertanya-tanya apakah kondisi tersebut tergolong cuaca ekstrem. Namun, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar memastikan peningkatan kecepatan angin tersebut masih dalam kategori normal dan merupakan fenomena yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau akibat aktifnya Monsun Australia.

Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Diana Hikmah menjelaskan, angin yang bertiup lebih kencang merupakan karakteristik musim kemarau yang umumnya berlangsung pada periode Juni hingga Agustus. Kondisi ini dipicu oleh aktifnya Monsun Australia yang menyebabkan perbedaan tekanan udara cukup signifikan antara Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan.

Baca Juga:   Peguyangan Bangkitkan Bank Sampah Tingkat Banjar 

Berdasarkan hasil pengamatan BMKG selama 24 jam terakhir, angin di Bali umumnya bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan maksimum mencapai 21 knot atau sekitar 39 kilometer per jam yang tercatat di Stasiun Meteorologi I Gusti Ngurah Rai.

Meski cukup kencang, kecepatan tersebut belum masuk kategori angin kencang. BMKG menetapkan kategori angin kencang apabila kecepatan angin mencapai 25 knot atau lebih. Peningkatan kecepatan angin masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan, termasuk di wilayah perairan utara maupun selatan Bali. 

Baca Juga:   Tingkatkan Etika dan Ketepatan Protokol, Prokompim Badung Gelar Pelatihan Keprotokolan

“Untuk kategori 21 knot ini cukup kencang namun belum dikategorikan angin kencang. Kategorinya adalah 25 knot atau lebih,” ujar Diana, Senin (27/7).

Selain dipengaruhi Monsun Australia, dinamika cuaca di Bali juga dipicu oleh aktifnya Gelombang Ekuatorial Rossby yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Akibatnya, meski telah memasuki musim kemarau, hujan ringan hingga sedang masih berpotensi turun secara tidak merata di sebagian besar wilayah Bali.

Sementara itu, masyarakat yang beraktivitas di laut diminta tetap meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, tinggi gelombang di sejumlah perairan Bali masih berpotensi meningkat. Di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok, dan perairan Selatan Bali, tinggi gelombang diperkirakan dapat mencapai 2 meter atau lebih. Sementara, di perairan utara Bali, tinggi gelombang berpotensi mencapai sekitar 1,5 meter.

Baca Juga:   Penyelundupan Puluhan Sapi dengan Dokumen Karantina Palsu Digagalkan di Gilimanuk

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, operator transportasi laut, serta wisatawan yang beraktivitas di perairan, untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan mewaspadai potensi peningkatan angin maupun gelombang dalam beberapa hari ke depan. (BC5)