balibercerita.com –
Bencana hidrometeorologi basah berupa banjir dan longsor melanda tujuh wilayah kabupaten/kota di Provinsi Bali sejak Rabu (10/9). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPBD Provinsi Bali terus memantau perkembangan dan melakukan penanganan darurat di lapangan.
BPBD Provinsi Bali mencatat lebih dari 120 titik banjir terjadi di tujuh wilayah administrasi. Kota Denpasar menjadi daerah paling terdampak dengan 81 titik banjir, disusul Kabupaten Gianyar 14 titik, Badung 12 titik, Tabanan 8 titik, Karangasem dan Jembrana masing-masing 4 titik, serta Kecamatan Dawan di Kabupaten Klungkung. Sementara itu, tanah longsor tercatat di 18 titik, dengan rincian 12 titik di Karangasem, 5 titik di Gianyar, dan 1 titik di Badung.
Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD kabupaten/kota melaporkan, hingga Kamis (11/9) pukul 11.00 WIB, total korban meninggal dunia mencapai 14 orang, dengan rincian, Kota Denpasar sebanyak 8 jiwa, Kabupaten Gianyar sebanyak 3 jiwa, Kabupaten Jembrana sebanyak 2 jiwa dan Kabupaten Badung sebanyak 1 jiwa. Selain itu, dua warga masih dinyatakan hilang di wilayah Denpasar.
Bencana ini juga memaksa 562 warga mengungsi. Mereka tersebar di beberapa titik pos pengungsian, yakni 327 warga di Jembrana dan 235 warga di Denpasar. Fasilitas umum seperti sekolah, balai desa, musala, hingga banjar dimanfaatkan sebagai tempat sementara.
Untuk mendukung penanganan darurat, BNPB menyalurkan bantuan logistik berupa 200 selimut, 200 matras, 300 paket sembako, 50 unit tenda keluarga, serta 2 unit tenda pengungsi. Selain itu, peralatan evakuasi seperti perahu karet, 1 unit mesin, dan 3 pompa air juga dikirimkan guna mempercepat proses pengendalian banjir.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., menegaskan pihaknya bersama BPBD akan terus melakukan koordinasi lintas sektor, mulai dari pencarian korban, penanganan pengungsi, hingga pemulihan dampak bencana. (BC5)



















