balibercerita.com –
Penanganan sampah di Banjar Celuk, Desa Adat Bualu, kini diarahkan lebih tegas dengan menyasar pelaku usaha. Tak lagi hanya fokus pada rumah tangga, para pemilik usaha mulai dari warung, toko hingga kos-kosan didorong bahkan diwajibkan mengelola sampahnya secara mandiri dari sumber.
Sebanyak 100 pelaku usaha dikumpulkan dalam sosialisasi khusus sebagai langkah awal penertiban belum lama ini. Langkah ini diambil menyusul tingginya kontribusi sampah dari sektor usaha yang selama ini kerap berujung pada penumpukan di tempat pembuangan.
Kelian Adat Banjar Celuk, Jro Mangku Ketut Murdana menegaskan, pihaknya mulai memperketat aturan sekaligus meningkatkan kesadaran para pelaku usaha, khususnya warga pendatang. “Warga pendatang yang memiliki usaha kami kumpulkan untuk diberikan pemahaman tentang pemilahan dan pengolahan sampah, baik organik maupun anorganik,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, pelaku usaha tidak hanya diberi edukasi, tetapi juga diarahkan untuk langsung menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri. Tujuannya jelas, menekan timbulan sampah sejak dari sumber agar tidak lagi menumpuk. Sejak 1 April 2026, sistem baru pengangkutan sampah organik dan anorganik juga mulai diterapkan.
Pola ini diharapkan mampu menciptakan pengelolaan yang lebih tertib dan mencegah pencampuran sampah. Selain itu, konsep teba modern mulai didorong sebagai solusi lokal dalam mengolah sampah organik, sehingga beban pengangkutan dapat dikurangi.
Sosialisasi ini menghadirkan narasumber dari Ketua Tim TPST Desa Adat Bualu, serta didampingi Bandesa Adat Bualu, Ketua BUPDA, dan prajuru adat Banjar Celuk.
Tak berhenti di sini, langkah lanjutan juga telah disiapkan. Edukasi berikutnya akan menyasar krama lanang saat hari raya Pagerwesi, dilanjutkan dengan kegiatan bersama PKK Banjar Celuk. Puncaknya, akan digelar gotong royong bersih-bersih sebagai aksi nyata di lingkungan banjar.
Langkah ini menandai perubahan pendekatan penanganan sampah di Banjar Celuk yang kini lebih sistematis dan menyasar langsung sumber permasalahan, dengan melibatkan pelaku usaha sebagai bagian penting dari solusi.
“Kegiatan sosialisasi ini yang pertama kali dan akan kami lanjutkan kembali pada saat hari raya Pagerwesi, rapat Buda Kliwon, kepada krama lanang Banjar Celuk. Terakhir, kami jadwalkan setelah hari raya untuk Pakis sekaligus gotong royong bersih-bersih di lingkungan banjar,” pungkas Murdana. (BC5)

















