
Denpasar, balibercerita.com –
Bali terus memperkuat posisinya sebagai lebih dari sekadar destinasi wisata budaya dan alam. Melalui ajang Bali Interfood 2025, diharapkan Bali dapat menjadi pusat industri kuliner modern di kawasan Asia Tenggara.
Pameran internasional yang akan digelar pada 10–12 September 2025, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) ini bukan hanya menghadirkan produk makanan dan minuman, tetapi juga menampilkan inovasi teknologi, alat dapur modern, serta tren terbaru dalam industri kuliner global. Ajang ini merupakan edisi ke-6 di Bali yang diselenggarakan oleh Krista Exhibition.
Menurut Ketua GIPI Bali/Chairman Bali Tourism Board, Ida Bagus Partha Adnyana, jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman (kuliner) di Bali pada tahun 2023 mencapai 245.000 unit, dengan pendapatan total mencapai Rp6,8 triliun. Dibandingkan dengan di Jakarta yang memiliki 351.696 unit usaha makan dan minuman, memang jumlah Bali lebih sedikit, tapi Bali memiliki omset yang lebih besar dibandingkan di Jakarta.
Hal ini menempatkan Bali sebagai salah satu wilayah paling menguntungkan untuk bisnis makanan. “Kita lebih rendah sedikit tapi omzet lebih besar. Ini karena faktor Bali merupakan daerah tujuan pariwisata internasional, sehingga spend of money wisatawan tinggi. Diversifikasi makanan di Bali juga lebih banyak. Hampir setiap bulan ada saja yang buka baru,” ungkapnya, Senin (25/8), di kantor Bali Tourism Board.
Kedua faktor tersebut merupakan modal bagi Bali untuk menjadi hub industri kuliner, bukan hanya tentang wisata. Melalui ajang Bali Interfood, hal ini merupakan langkah konkret untuk menjadikan Bali sebagai hub kuliner internasional dengan ruang kolaborasi, pertukaran inovasi, dan peluang ekspor. Dengan adanya konsep tersebut, maka sektor MICE Bali juga akan lebih berkembang maju.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap dapat menjadi wahana dalam membangun jaringan yang lebih luas, berbagi inovasi dan membawa kuliner indonesia naik kelas. Acara ini dapat menjadi ajang berbagi pengalaman dan bertukar referensi produk, serta pengembangan produk. Seperti terkait promosi digitalisasi, QR menu multibahasa, keberlangsungan dengan kemasan ramah lingkungan, serta kolaborasi dengan petani lokal. “Bali bukan hanya sebagai tempat berlibur tapi tempat terbaik untuk membangun bisnis kuliner masa depan,” tegasnya.
Ketua PHRI Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menilai pameran ini bukan hanya memperkenalkan produk dan teknologi, tapi juga membawa dampak ekonomi nyata. Dengan target 15.000 pengunjung selama tiga hari, perhelatan ini diperkirakan mendongkrak okupansi hotel dan konsumsi wisatawan secara signifikan. “Dari sisi hospitality, event ini bisa berdampak puluhan miliar rupiah dari sisi sewa kamar hotel,” ujar Cok Ace.
Event ini bukan hanya berdampak pada okupansi, tapi juga menjadi ajang promosi yang baik untuk Bali. Bali bukan hanya tentang pariwisata budaya dan alam, tapi juga destinasi MICE. Kedrpan ia berharap dukungan pemerintah dapat lebih maksimal, agar kegiatan ini bisa lebih ditingkatkan. “Di tengah dinamika teknologi yang sangat cepat di bidang kuliner, ajang ini sangat tepat dilaksanakan guna mendukung hospitality. Saya harap kegiatan ini tidak hanya berlangsung 2 tahun sekali, melainkan menjadi setahun sekali,” ujarnya.
CEO Krista Exhibition, Daud D. Salim menegaskan bahwa Bali punya potensi besar untuk menjadi poros pertumbuhan industri kuliner yang berkelanjutan dan berdaya saing internasional. “Event ini bukan sekadar pameran, tapi menjadi showcase bagi perkembangan dunia kuliner dari bahan baku, teknologi, hingga kreativitas lokal. Bali adalah panggung yang tepat,” ujarnya.
Acara ini merupakan agenda rutin dua tahunan yang menunjukkan konsistensi serta pentingnya acara ini dalam mendukung sektor pariwisata. Sebagai ujung tombak promosi industri makanan dan teknologi pangan, pameran ini menampilkan berbagai produk unggulan, termasuk kompetisi menghias keranjang tahun baru yang menarik perhatian pengunjung.
Lebih dari 110 peserta dari perusahaan ternama, mewakili lebih dari 150 merk serta 40 IKM, ikut ambil bagian. Produk dan peralatan yang ditampilkan mencakup 17 negara dan distributor di Indonesia, menjadikan acara ini momentum penting, khususnya bagi pelaku industri horeka di wilayah timur Indonesia. Industri cokelat bar, termasuk enam pelaku usaha dari Bali, turut berpartisipasi bersama peserta dari luar pulau. Peralatan kuliner yang dipamerkan pun menyoroti inovasi yang terus berkembang. “Target kami 15.000 pengunjung selama tiga hari, puncak acara akan berlangsung megah di Jakarta pada 12–15 November mendatang,” imbuhnya. (BC5)















