
balibercerita.com –
Suhu udara di Bali saat ini lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga dini hari. Kondisi tersebut bahkan memunculkan anggapan bahwa Bali masih berada dalam musim hujan, meski secara meteorologis wilayah ini telah memasuki musim kemarau sejak Mei.
Warga Bangli, Gung Samudra mengaku heran dengan suhu dingin yang dirasakan dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, meski Bangli dikenal sebagai daerah berhawa sejuk, kondisi saat ini terasa lebih menusuk dibanding biasanya. “Dinginnya tidak seperti biasanya. Saya juga heran, ini sebenarnya masih musim hujan atau sudah kemarau,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kadek Agus Widnyana, remaja asal Karangasem. Ia mengaku hawa dingin mulai terasa sejak sore hingga menjelang pagi hari. “Katanya saat El Nino cuaca akan lebih panas, tapi sekarang justru terasa lebih dingin. Sejak sekitar pukul tujuh malam udara sudah mulai dingin sampai dini hari,” katanya.
Menanggapi fenomena tersebut, Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Diana Hikmah menjelaskan bahwa suhu dingin pada malam hari merupakan fenomena normal yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau, terutama pada Juni hingga Agustus. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi oleh gerak semu tahunan matahari yang saat ini berada di belahan bumi utara sehingga wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, termasuk Bali, menerima penyinaran matahari yang lebih sedikit.
Selain itu, Australia yang sedang memasuki musim dingin menghasilkan tekanan udara tinggi yang mendorong massa udara dingin bergerak menuju Indonesia, termasuk Bali. “Langit yang cenderung cerah dengan sedikit tutupan awan membuat panas hasil radiasi matahari lebih cepat dilepaskan ke atmosfer. Akibatnya udara di dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari,” jelasnya.
BMKG mencatat penurunan suhu udara mulai terjadi sejak akhir Mei. Suhu terendah tercatat di Jembrana mencapai 20 derajat Celcius, sementara Denpasar dan Kuta berada di kisaran 22 derajat Celcius. Suhu yang lebih rendah biasanya dirasakan di wilayah dataran tinggi dan pegunungan.
Ia menegaskan bahwa fenomena ini bukan sesuatu yang tidak biasa. Pola serupa terjadi hampir setiap tahun saat musim kemarau berlangsung. “Fenomena suhu dingin ini merupakan kondisi normal yang berulang setiap tahun, terutama pada bulan Juni, Juli, dan Agustus,” tegasnya.
BMKG memperkirakan cuaca Bali dalam beberapa hari ke depan didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Sementara itu, suhu dingin pada malam hari diprediksi masih akan berlangsung hingga Agustus mendatang.
Selain suhu dingin, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi gelombang laut setinggi hingga 2,5 meter di perairan selatan Bali. Nelayan, pelaku wisata bahari, dan masyarakat pesisir diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dan laut.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan selama periode udara dingin dengan mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, menjaga daya tahan tubuh, serta menggunakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam hari.
“Fenomena ini juga dirasakan di wilayah selatan Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Secara umum trennya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, namun suhu yang tercatat semalam memang berada di bawah rata-rata bulanan sehingga terasa lebih dingin,” pungkas Diana. (BC5)














