balibercerita.com –
Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) mendorong kepengurusan baru DPD GPEI Bali periode 2026–2031 bergerak lebih agresif menggenjot ekspor daerah. Pasalnya, kinerja ekspor Bali pada Januari–Mei 2026 tercatat mengalami penurunan sekitar 2,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sekretaris Jenderal DPP GPEI, Toto Dirgantoro mengatakan, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus baru. Namun di sisi lain, Bali memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai hub sekaligus etalase produk Indonesia karena tingginya kunjungan masyarakat mancanegara. “Provinsi Bali daerah penunjang serta daerah-daerah yang memiliki potensi untuk menunjang ekspor nasional. Dikarenakan Bali ini bisa menjadi hub untuk etalase Indonesia di mana banyak sekali warga mancanegara yang datang ke Bali,” ujarnya, Kamis (6/8).
Menurut Toto, posisi Bali sebagai destinasi internasional dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan dari seluruh Indonesia kepada wisatawan mancanegara. Dengan demikian, Bali tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga pintu promosi produk Nusantara menuju pasar global. “Jadi kondisi ini dapat kita manfaatkan agar Bali menjadi etalase Indonesia untuk mereka melihat banyaknya potensi Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor,” katanya.
Namun, peluang tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kinerja ekspor. Toto menyebut berdasarkan data BPS Provinsi Bali, nilai ekspor barang Bali pada Januari 2026 tercatat sebesar US$48.324.772. Komoditas utama yang mendominasi antara lain produk ikan, perhiasan dan pakaian.
Sementara secara kumulatif Januari–Mei 2026, kinerja ekspor Bali mengalami penurunan sekitar 2,55 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Ia berharap dengan adanya kepengurusan yang baru, ada semangat baru yang dapat dikolaborasikan. Kedepannya GPEI Bali harus lebih aktif dan responsif, kolaborasi yang dalam rangka meningkatkan ekspor di Provinsi Bali.
Toto menegaskan, keberadaan GPEI di Bali merupakan bagian dari upaya organisasi menjangkau pelaku ekspor di berbagai daerah sekaligus memperkuat ekosistem perdagangan nasional. GPEI juga telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Perdagangan RI dalam mengelola Export Center, yang salah satu wilayah kerjanya berada di Bali.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pengurus GPEI Bali untuk membantu pelaku usaha lokal, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), agar mampu memenuhi berbagai persyaratan dan membuka akses pasar ekspor.
“Saya minta semua pengurus DPD GPEI bisa langsung tancap gas untuk membantu seluruh UKM di Bali agar dapat menjadi eksportir,” ujarnya.
Menurut Toto, penguatan sektor ekspor tidak bisa hanya mengandalkan perusahaan besar. Pelaku UKM juga perlu didorong agar mampu naik kelas dan menjadi bagian dari rantai perdagangan internasional.
Momentum pengukuhan kepengurusan baru GPEI Bali juga ditandai dengan ekspor perdana salak gula pasir produksi petani Bali ke Tiongkok. Ia menyebut ekspor komoditas pertanian tersebut menjadi kabar positif sekaligus bukti bahwa Bali memiliki potensi ekonomi yang lebih luas di luar sektor pariwisata. “Ini satu hal yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa Bali memiliki potensi di luar pariwisata,” katanya.
Keberhasilan salak Bali menembus pasar Tiongkok dapat menjadi pemicu bagi komoditas lokal lainnya untuk mengikuti jejak serupa. Dengan dukungan organisasi, pemerintah dan pelaku usaha, semakin banyak produk Bali diharapkan mampu menembus pasar internasional.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah, termasuk kehadiran Gubernur Bali dan Wakil Menteri Perdagangan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci untuk menjadikan Bali tidak hanya sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga sebagai etalase berbagai produk unggulan Indonesia.
Dengan kepengurusan baru GPEI Bali, ia berharap momentum tersebut dapat menjadi titik awal untuk memperkuat ekspor sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha lokal menuju pasar global. (BC5)


















