balibercerita.com –
Kawasan pariwisata Nusa Dua kembali menunjukkan pesonanya sebagai destinasi premium di Bali. Setelah sepanjang semester pertama tahun ini mencatat rata-rata tingkat hunian hotel sekitar 75 persen, memasuki musim liburan okupansi hotel di kawasan tersebut melonjak hingga menembus lebih dari 90 persen. Lonjakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa minat wisatawan untuk menginap di Nusa Dua tetap tinggi, bahkan di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar mengatakan, peningkatan okupansi terjadi hampir di seluruh hotel yang berada di dalam kawasan. Menurutnya, tren ini memperlihatkan Nusa Dua masih menjadi pilihan utama wisatawan yang mengutamakan kenyamanan, keamanan, dan fasilitas berkelas.
“Rata-rata okupansi sebelumnya berkisar 70 sampai 80 persen atau sekitar 75 persen. Begitu memasuki masa liburan, okupansi hotel sudah lebih dari 90 persen,” ujarnya.
Ahmad Fajar menilai, tingginya tingkat hunian tidak hanya dipengaruhi kualitas akomodasi, tetapi juga semakin banyaknya agenda internasional, konser, pameran, hingga berbagai kegiatan yang digelar di kawasan Nusa Dua. Beragam aktivitas tersebut membuat wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk menghabiskan waktu dan menginap lebih lama. “Event-event di kawasan sekarang juga semakin banyak sehingga menjadi salah satu alasan wisatawan memilih menginap di Nusa Dua,” katanya.
Stabilnya okupansi di atas 70 persen juga dinilai menjadi indikator positif bagi dunia investasi. Kondisi tersebut memberi keyakinan kepada investor bahwa bisnis perhotelan di kawasan Nusa Dua masih memiliki prospek yang menjanjikan.
Bahkan, Ahmad Fajar mengaku sempat merasakan sendiri tingginya permintaan kamar hotel saat musim liburan. “Saya sendiri sempat mencari hotel untuk menginap di sini saat liburan juga sudah cukup sulit karena tingkat huniannya sangat tinggi,” ungkapnya.
Untuk mempertahankan daya tarik kawasan, ITDC kini tengah menyiapkan revitalisasi Peninsula Nusa Dua. Penataan itu akan menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam, tidak hanya mengandalkan panorama pantai, tetapi juga dilengkapi fasilitas baru seperti kafe, pusat kuliner, hingga ruang-ruang pertunjukan seni dan budaya Bali.
Menurut Ahmad Fajar, pengembangan tersebut diharapkan mampu membuat wisatawan bertahan lebih lama di kawasan sekaligus meningkatkan belanja wisata. “Ke depan, melalui revitalisasi Peninsula, kami akan menghadirkan lebih banyak kafe, pusat kuliner, dan ruang-ruang budaya sehingga pengalaman wisata di Nusa Dua semakin lengkap,” pungkasnya. (BC5)
















