balibercerita.com –
Pemkab Badung memastikan pembangunan seawall dan perkuatan tebing di kawasan Uluwatu akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir yang rawan abrasi sekaligus mendukung kelancaran aktivitas keagamaan masyarakat. Komitmen tersebut disampaikan Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa saat menghadiri rangkaian pujawali di Pura Luhur Uluwatu belum lama ini.
Menurutnya, keberadaan seawall tidak hanya berfungsi melindungi kawasan tebing dari gempuran ombak dan abrasi, tetapi juga memberikan akses yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat yang melaksanakan upacara adat maupun kegiatan keagamaan di kawasan suci tersebut. “Seawall ini akan kami lanjutkan karena manfaatnya sangat besar. Selain sebagai upaya pencegahan abrasi dan penanganan korosi, keberadaannya juga membantu akses untuk kegiatan upacara. Di sisi lain, penataannya juga menghadirkan pemandangan yang indah sehingga program ini akan dilanjutkan,” ujar Adi Arnawa.
Selain penataan di Uluwatu, Pemkab Badung juga berencana melakukan penataan pada sejumlah kawasan suci lainnya. Salah satunya adalah kawasan Pura Luhur Pucak Mangu yang saat ini masih dalam tahap kajian.
Menurut Adi Arnawa, penataan tersebut bertujuan meningkatkan kenyamanan pamedek melalui penyediaan fasilitas yang lebih memadai, termasuk penataan area parkir dan sarana pendukung lainnya. “Tidak hanya Uluwatu, kawasan Pura Luhur Pucak Mangu juga akan kami tata. Saat ini masih dalam tahap kajian agar nantinya penataan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta menyampaikan bahwa masyarakat menyambut baik komitmen pemerintah dalam melanjutkan pembangunan seawall hingga kawasan Pura Batu Metandal. Namun, ia menilai evaluasi terhadap struktur yang telah dibangun juga perlu dilakukan untuk memastikan ketahanannya menghadapi karakter arus laut di kawasan Uluwatu.
“Pemkab Badung berkomitmen melanjutkan pembangunan hingga Pura Batu Metandal. Di sisi lain, struktur seawall yang sudah ada juga perlu dievaluasi karena kawasan ini pernah mengalami terpaan arus laut yang cukup besar,” ujarnya.
Menurut Sumerta, fokus utama saat ini adalah memperkuat perlindungan tebing agar terhindar dari potensi kerusakan akibat abrasi dan hempasan gelombang laut. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga kelestarian kawasan sekaligus keamanan aktivitas masyarakat di sekitarnya.
Ia juga menegaskan bahwa jalur yang dibangun di sepanjang seawall bukan ditujukan sebagai jalan umum, melainkan sebagai jalur inspeksi dan akses pendukung kegiatan keagamaan. Kesepahaman tersebut, menurutnya, juga telah menjadi komitmen bersama masyarakat adat di kawasan Pecatu. (BC5)

















