balibercerita.com –
Pemkab Tabanan bersiap menghadirkan wajah baru bagi salah satu ikon daerahnya. Melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPR), patung Catur Muka akan dibangun kembali tahun ini sebagai bagian dari penataan kawasan strategis Jalan Gajah Mada.
Patung yang berada di titik nol Kota Tabanan itu tetap akan menempati lokasi yang sama, namun dengan ukuran yang lebih besar dan desain yang lebih monumental. Berdasarkan kajian teknis, patung baru dirancang memiliki tinggi sekitar 9 meter dari permukaan tanah dengan lebar dasar mencapai 6,2 meter. Dimensi tersebut meningkat signifikan dibandingkan patung lama yang memiliki tinggi sekitar 5,2 meter.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Tabanan, I Gde Made Partana menjelaskan, pembangunan patung baru merupakan tindak lanjut atas aspirasi Desa Adat Kota Tabanan yang menginginkan pembaruan terhadap ikon kota tersebut. “Pembangunan patung Catur Muka yang baru ini bertujuan untuk mempercantik kawasan strategis di Kabupaten Tabanan. Kami menerjemahkan aspirasi masyarakat ke dalam kajian teknis untuk menghadirkan sebuah simbol ikonik yang tidak hanya kokoh secara struktur, tetapi juga memiliki nilai estetika dan filosofis yang lebih kuat,” ujar Partana.
Menurutnya, peningkatan dimensi patung diharapkan mampu mempertegas identitas kawasan Jalan Gajah Mada sebagai pusat Kota Tabanan sekaligus memberikan kesan yang lebih megah bagi masyarakat maupun pengunjung. Keputusan membangun patung baru juga didasari kondisi fisik patung Catur Muka yang sudah mengalami penurunan kualitas akibat faktor usia dan paparan cuaca selama bertahun-tahun. Selain menjadi simbol kota, patung tersebut memiliki nilai sejarah, budaya, dan estetika yang penting bagi masyarakat Tabanan.
“Dari hasil pengamatan, memang terlihat adanya pelapukan pada permukaan patung, muncul retakan di sejumlah bagian, bahkan beberapa ornamen sudah mulai longgar dan ada yang terlepas. Kondisi ini bukan hanya mengurangi nilai estetika dan kewibawaan ikon Kota Tabanan, tetapi juga berpotensi membahayakan masyarakat apabila dibiarkan terus mengalami kerusakan,” ujar Partana.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemerintah menilai pembangunan ulang menjadi langkah yang lebih tepat dibandingkan melakukan perbaikan sebagian. Selain meningkatkan aspek keselamatan, patung baru juga dirancang memiliki konstruksi yang lebih kuat, lebih tahan terhadap perubahan cuaca, sekaligus tetap mempertahankan nilai seni, filosofi, dan identitas budaya Tabanan.
Sebagai bagian dari tahapan pembangunan, prosesi ritual mapralina patung Catur Muka telah dilaksanakan pada Rabu (8/7) lalu oleh Desa Adat Kota Tabanan. Ritual tersebut menjadi rangkaian awal sebelum proses pembongkaran patung lama dimulai.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tabanan juga mengadakan sosialisasi di gedung Graha Yadnya yang melibatkan pengurus Desa Adat Kota Tabanan serta para pemilik usaha di sepanjang Jalan Gajah Mada. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memberikan pemahaman mengenai rencana penataan kawasan yang mencakup pembangunan kembali patung Catur Muka.
Rencana tersebut mendapat dukungan dari Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan. Menurutnya, pembangunan kembali patung Catur Muka memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar mengganti monumen lama.
“Patung Catur Muka merupakan salah satu penanda Kota Tabanan. Penataannya harus mampu mencerminkan kemajuan daerah tanpa meninggalkan akar sejarah, adat, dan budaya yang menjadi jati diri masyarakat Tabanan,” ujar Ida Cokorda.
Ia menegaskan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga marwah, keselamatan, dan identitas Kota Tabanan di tengah perkembangan kawasan perkotaan. “Kehadiran patung baru diharapkan menjadi warisan yang dapat dibanggakan oleh generasi mendatang, sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan,” tegasnya.
Dukungan serupa juga disampaikan Bendesa Adat Kota Tabanan, I Made Suwardika. Ia mengatakan, pembangunan patung baru merupakan harapan masyarakat adat agar ikon Kota Tabanan memiliki tampilan yang lebih representatif tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah melekat selama ini.
“Kami berharap patung Catur Muka yang baru menjadi simbol kebanggaan masyarakat Tabanan. Selain lebih megah dan indah, pembangunannya juga tetap menghormati nilai-nilai adat, budaya, dan filosofi yang melekat pada keberadaan patung tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, pembangunan ikon tersebut diharapkan tetap mengacu pada ketentuan tata ruang sehingga mampu menghadirkan kawasan perkotaan yang lebih tertata, estetik, serta nyaman bagi masyarakat. (BC13)


















