balibercerita.com –
Penguatan wawasan kebhinekaan menjadi salah satu bekal yang diberikan kepada mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Calon Guru Tahap I Tahun 2026. Pembekalan tersebut diarahkan untuk membentuk calon guru yang tidak hanya kompeten dalam proses pembelajaran, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, menghargai keberagaman, dan menumbuhkan nilai-nilai toleransi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Workshop Wawasan Kebhinekaan yang diselenggarakan oleh PPG Undiksha, Kamis (9/7) lalu. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak memperkuat pemahaman mengenai peran guru sebagai pembentuk karakter peserta didik sekaligus penjaga persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Koordinator PPG Undiksha, Gede Nurjaya, M.Pd., yang mewakili Rektor Undiksha, menekankan bahwa ruang belajar harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang. “Indonesia dibangun di atas keberagaman. Perbedaan harus menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling bertentangan atau terpecah belah,” tegasnya.
Menurutnya, keberagaman dapat dipahami melalui filosofi canang sari dalam budaya Bali yang tersusun dari beragam warna dan jenis bunga, namun berpadu dalam satu harmoni. Nilai tersebut dinilai selaras dengan upaya membangun budaya sekolah yang menghormati perbedaan, mengedepankan toleransi, serta mencegah praktik diskriminasi maupun perundungan.
Workshop ini juga menghadirkan tiga narasumber yang membahas berbagai aspek pendidikan kebhinekaan. Kade Satya Gita Rismawan, M.Pd., mengulas strategi menghadirkan pembelajaran yang inklusif dan humanis. Putu Indra Cristiawan, S.Pd., M.Pd., Ph.D., memaparkan pentingnya penguatan nilai toleransi, empati, dan dialog multikultural. Sementara itu, Dr. I Made Sarmita, S.Pd., M.Pd., menjelaskan urgensi mengintegrasikan kearifan budaya lokal dalam penguatan pendidikan kebhinekaan.
Melalui pembekalan tersebut, PPG Undiksha berupaya memperkuat kapasitas calon guru agar mampu menjadikan keberagaman sebagai modal dalam proses pembelajaran. Bekal itu diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya pendidik yang mampu membangun karakter peserta didik yang toleran, inklusif, serta memiliki komitmen menjaga persatuan Indonesia. (BC13)
















