Bangun Kepercayaan Pasien Dunia, BTMA Jajaki Penerapan AI untuk Perkuat Medical Tourism Bali

0
12
BTMA
I Gede Wiryana Patra Jaya (paling kiri) saat menjadi pembicara diskusi kesehatan di Sanur. (BC5)

balibercerita.com –
Di tengah upaya Bali memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata kesehatan dunia, Bali Tourism Medical Association (BTMA) mulai menjajaki pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung layanan radiologi di rumah sakit dan klinik. Langkah ini diyakini dapat meningkatkan kualitas diagnosis sekaligus memperkuat kepercayaan wisatawan yang berobat di Bali.

Ketua BTMA, Dr. I Gede Wiryana Patra Jaya, M.Kes., mengatakan, kolaborasi yang sedang dibahas bersama Shealth AI bukan sekadar menghadirkan teknologi baru, melainkan membangun sistem layanan kesehatan yang lebih terpercaya, aman, dan berkualitas.
Menurutnya, salah satu tantangan dalam pengembangan medical tourism adalah membangun keyakinan pasien terhadap hasil diagnosis dan layanan yang diterima.

Karena itu, teknologi AI dipandang dapat menjadi alat pendukung bagi dokter dalam memberikan analisis yang lebih komprehensif. “Tujuannya untuk kualitas, untuk safety dan juga untuk membangun trust. Karena dalam pelayanan kesehatan, kepercayaan menjadi faktor yang sangat penting,” ujarnya, Jumat (10/7), di Sanur.

Baca Juga:   Dilema Penanganan Anjing Liar di Kuta Selatan, Antara Keselamatan dan Aturan

Wiryana menjelaskan, AI yang ditawarkan tidak menggantikan peran dokter radiologi. Sistem tersebut justru berfungsi membantu mengarahkan hasil pemeriksaan kepada dokter spesialis yang paling sesuai sehingga memungkinkan adanya pertimbangan atau second opinion yang lebih spesifik. “Nanti dokter spesialis yang tetap memberikan pandangan medisnya. AI hanya membantu prosesnya agar lebih terarah dan mendukung pertimbangan second opinion,” jelasnya.

Menurutnya, keberadaan second opinion menjadi nilai tambah penting dalam pelayanan kesehatan modern. Sebab, pasien berhak memperoleh pendapat medis tambahan untuk memastikan diagnosis dan tindakan yang akan dijalani.

BTMA menilai pemanfaatan teknologi kesehatan berbasis AI dapat menjadi salah satu modal penting dalam meningkatkan daya saing Bali di sektor medical tourism yang kini semakin kompetitif di kawasan Asia. “Masalah utama kita sebenarnya adalah trust. Ketika ada teknologi yang sudah digunakan dan dipercaya di berbagai negara, tentu ini bisa memperkuat kepercayaan terhadap layanan kesehatan di Bali,” katanya.

Baca Juga:   Perkuat Layanan Kesehatan dan Penunjang Pariwisata, Bupati Adi Arnawa Resmikan RS Hermina

Ia mencontohkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur yang menghadirkan berbagai institusi kesehatan internasional sebagai strategi membangun kepercayaan pasar global terhadap layanan kesehatan Indonesia. Dengan konsep serupa, kehadiran teknologi yang telah diterapkan di sejumlah negara diharapkan mampu memperkuat citra Bali sebagai destinasi yang tidak hanya unggul dalam pariwisata, tetapi juga memiliki layanan kesehatan berstandar internasional.

Meski demikian, implementasi teknologi tersebut masih dalam tahap awal. Shealth AI diketahui baru melakukan kunjungan dan penjajakan kerja sama ke sejumlah fasilitas kesehatan di Bali, termasuk Klinik Unika, Rumah Sakit Prima Medika, dan Bali Royal Hospital.

BTMA bersama para pemangku kepentingan kesehatan saat ini masih mengkaji berbagai aspek, mulai dari integrasi teknis, regulasi, hingga keamanan data pasien. “Kami ingin memastikan bahwa penerapannya sesuai aturan, termasuk terkait keamanan data dan integrasinya dengan sistem electronic medical record serta platform Satu Sehat,” ujar Wiryana.

Baca Juga:   Tekankan Penyatuan Siwa-Durga, Yoga Tertawa Bali Gelar Renungan dan Doa untuk Bali Harmoni

Di sisi lain, BTMA mencatat sektor wisata kesehatan Bali mulai menunjukkan perkembangan positif. Meski jumlah wisatawan yang datang khusus untuk mendapatkan layanan kesehatan belum besar, minat pasar mulai terlihat. Wisata kesehatan tidak hanya mencakup medical tourism bagi pasien yang datang untuk berobat atau menjalani tindakan medis, tetapi juga wellness tourism bagi wisatawan yang ingin menjaga kesehatan melalui berbagai program kebugaran.

Saat ini BTMA juga tengah mendorong konsep medical wellness, yaitu menggabungkan layanan medis modern dengan wellness dan pendekatan kesehatan tradisional. “Produk-produk layanan kesehatan sudah mulai terbentuk, sekarang masuk tahap promosi. Respons sudah ada dan mulai terlihat peluangnya,” katanya.

Ia berharap penguatan teknologi kesehatan, dukungan regulasi, serta promosi yang lebih agresif dapat mempercepat pertumbuhan medical tourism di Bali sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan yang mencari layanan kesehatan berkualitas di Pulau Dewata. (BC5)