balibercerita.com –
Persaingan antardestinasi wisata di Bali semakin ketat. Munculnya berbagai daya tarik wisata baru membuat pengelola destinasi tak bisa hanya mengandalkan popularitas yang sudah dimiliki. Kondisi itulah yang mendorong BUMDA Kutuh selaku pengelola DTW Pantai Pandawa memperluas promosi hingga ke pasar internasional, khususnya Malaysia atas fasilitasi Kementerian Pariwisata RI.
Direktur BUMDA Kutuh, Ni Luh Hepi Wiradani Duartha mengungkapkan, pihaknya baru pertama kali mengikuti sales mission di Malaysia yang difasilitasi Kementerian Pariwisata. Dari kegiatan tersebut, ia menemukan fakta menarik bahwa nama Tanah Barak ternyata lebih dikenal dibanding Pantai Pandawa di kalangan pelaku industri pariwisata Malaysia. “Di sana mereka tahu Tanah Barak, tetapi belum banyak yang mengenal Pandawa. Setelah kami perkenalkan, ternyata responsnya sangat antusias,” ujarnya.
Menurut Hepi, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa promosi masih harus terus diperkuat. Terlebih saat ini wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi dan selalu mencari pengalaman baru saat berlibur. Karena itu, BUMDA Kutuh akan kembali mengikuti table top dalam rangkaian MATTA Fair yang digelar pada 8-9 September mendatang di Kuala Lumpur.
Berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang hanya diikuti dua orang perwakilan, kali ini BUMDA berencana membawa tim yang lebih lengkap. Dalam ajang tersebut, Pantai Pandawa tidak hanya dipromosikan sebagai destinasi pantai, melainkan sebagai kawasan wisata yang menawarkan pengalaman lengkap. “Nanti kami menawarkan paket wisata yang terintegrasi, mulai dari akomodasi, aktivitas wisata hingga atraksi yang berkolaborasi dengan pelaku usaha di sekitar kawasan. Dari perkenalan kemarin, paket aktivitas keluarga paling banyak diminati,” katanya.
Malaysia menjadi salah satu pasar yang cukup potensial bagi Pantai Pandawa. Saat ini wisatawan asal negara tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 20 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Pandawa. Menariknya, angka itu tercapai meskipun promosi khusus ke Malaysia belum dilakukan secara intensif. Dengan melakukan promosi tentunya peluang peningkatannya dirasa masih sangat besar.
Selain Malaysia, BUMDA Kutuh juga aktif mengikuti berbagai kegiatan promosi seperti Bali and Beyond Travel Fair (BBTF), fam trip, hingga kegiatan gathering yang menyasar pasar domestik maupun internasional. Hepi menilai promosi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi di tengah berkembangnya banyak destinasi wisata baru. “Promosi wajib dilakukan karena sekarang banyak daya tarik wisata yang bermunculan. Kalau tidak aktif memperkenalkan diri, kita bisa tertinggal,” tegasnya.
Di sisi lain, industri pariwisata juga masih menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari kebijakan efisiensi, kenaikan harga tiket pesawat, harga bahan bakar, hingga meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung agen perjalanan. Kondisi itu secara otomatis dirasa berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan. Travel agent juga menghadapi peningkatan biaya sehingga cukup berat. Namun pihaknya bersyukur pasar India, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura masih menunjukkan tren peningkatan.
Meski tekanan ekonomi cukup terasa, BUMDA Kutuh tetap optimistis. Pengalaman selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa aktivitas promosi biasanya memberikan dampak positif terhadap kinerja destinasi. Pada 2024, pendapatan kawasan wisata Pantai Pandawa bahkan mampu melampaui target hingga sekitar Rp7 miliar. Meskipun pada 2025 terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya, realisasi pendapatan masih berada di atas target yang ditetapkan.
Maka dari itu, strategi memperluas pasar internasional kini menjadi fokus utama pengelola. “Kegiatan korporasi dan BUMN yang dulu cukup banyak sekarang berkurang drastis. Karena itu kami mencari strategi lain dengan memperluas pasar ke luar negeri agar sumber kunjungan semakin beragam,” jelas Hepi.
Tak hanya Pantai Pandawa, destinasi Gunung Payung juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Jika sebelumnya jumlah kunjungan hanya berkisar 200 hingga 400 wisatawan per hari, kini meningkat menjadi sekitar 700 hingga 800 orang. Berdasarkan berbagai ulasan wisatawan, daya tarik utama kawasan tersebut adalah keindahan alam yang masih alami, tebing-tebing eksotis dan pasir putih yang tetap terjaga.
Di tengah upaya pengembangan tersebut, BUMDA Kutuh tetap berpegang pada konsep pariwisata berbasis masyarakat. Setiap investasi yang masuk akan diseleksi agar tidak mengubah karakter dan konsep awal kawasan wisata. “Kami tidak ingin keluar dari konsep pemberdayaan. Pengembangan tetap harus melibatkan krama dan desa adat sehingga manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” pungkasnya. (BC5)














