Empat Remaja Terjaring saat Mengemis di Legian, Mengaku Gagal Cari Kerja di Bali

0
9
Remaja mengemis
Keempat remaja saat dibina di halaman kantor Camat Kuta. (ist)

balibercerita.com –
Bondho nekat (bonek) begitulah tercermin dari empat remaja asal Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang merantau ke Bali tanpa memiliki tempat dan tujuan jelas, tidak membawa identitas lengkap maupun biaya yang mumpuni. Keempat remaja di bawah umur itu diamankan petugas Linmas Legian setelah kedapatan mengemis di depan sebuah supermarket di kawasan Legian pada Senin (29/6) siang.

Mereka akhirnya dibawa ke kantor Satpol PP BKO Kecamatan Kuta untuk menjalani pendataan dan pembinaan sebelum diserahkan kepada Dinas Sosial Kabupaten Badung untuk segera dipulangkan ke daerah asal. Mereka juga diberikan sanksi fisik ringan berupa push-up.

Baca Juga:   Ketua GOW Kota Denpasar Buka Sosialisasi Pendampingan Sertifikasi Halal UMKM

Komandan Regu Satpol PP BKO Kecamatan Kuta, I Wayan Suantara menjelaskan, mereka berinisial DR (14), SFN (17), MRP (17), dan MFA (17). Dari empat orang tersebut, satu di antaranya masih berstatus pelajar SMP. “Dari empat orang itu, tiga orang berusia 17 tahun dan satu orang masih berusia 14 tahun, masih duduk di bangku kelas VII SMP,” ujar Suantara.

Baca Juga:   Korban Tenggelam di Pantai Berawa Ditemukan Meninggal Dunia

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, seluruhnya berasal dari Kabupaten Pasuruan. Petugas masih melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk memastikan identitas dan alamat asal mereka.

Kepada petugas, para remaja itu mengaku datang ke Bali dengan harapan memperoleh pekerjaan. Namun, keinginan tersebut tidak terwujud karena mereka tidak memiliki KTP sebagai syarat administrasi untuk melamar pekerjaan. “Mereka mengaku sempat mencari pekerjaan di proyek tetapi tidak diterima karena tidak membawa identitas berupa KTP. Akhirnya mereka memilih meminta-minta,” jelasnya.

Baca Juga:   Lima Ranperda Disetujui Jadi Perda 

Saat diamankan, uang hasil mengemis yang berhasil mereka kumpulkan hanya sebesar Rp22 ribu. Sebelumnya, mereka mengaku bekerja sebagai pengamen di daerah asal dengan pendapatan sekitar Rp150 ribu per hari. “Menurut pengakuan mereka, di daerah asal pengamennya sudah banyak sehingga memilih datang ke Bali untuk mencari pekerjaan, tetapi akhirnya justru mengemis,” kata Suantara. (BC5)