Perumdam Tirta Mangutama Kaji SWRO, Solusi Jangka Panjang Atasi Krisis Air di Badung Selatan

0
2
SWRO
Fasilitas SWRO The Nusa Dua. (BC5)

balibercerita.com –
Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Mangutama Badung terus menjajaki pemanfaatan teknologi sea water reverse osmosis (SWRO) atau pengolahan air laut menjadi air bersih sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk menjawab kebutuhan air yang terus meningkat, khususnya di kawasan Badung Selatan.

Plt. Direktur Utama Perumdam Air Minum Tirta Mangutama Badung, Wayan Suyasa menilai teknologi SWRO menjadi opsi strategis untuk menjamin keberlanjutan pelayanan air bersih di tengah keterbatasan sumber air baku yang ada saat ini. Keunggulan utama SWRO adalah ketersediaan bahan baku yang nyaris tidak terbatas karena berasal dari air laut. Namun, di sisi lain, teknologi tersebut membutuhkan investasi besar sehingga perlu kajian matang dari sisi pembiayaan dan operasional.

Baca Juga:   Bantu Penanganan Gempa Turki, Basarnas Berangkatkan Tim Inasar

“SWRO ini sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh kita. Ini akan berdampak pada keberlanjutan pelayanan karena sumber airnya tidak terbatas. Tetapi yang perlu dicari adalah bagaimana kemampuan keuangan untuk bisa meng-handle SWRO ini,” ujar Suyasa.

Pihaknya akan melakukan penjajakan dan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk ITDC yang disebut telah lebih dahulu menerapkan teknologi serupa dengan biaya produksi yang relatif kompetitif. “Kami akan jajaki dan koordinasi. Informasinya ITDC sudah melaksanakan dan air yang dihasilkan cukup murah. Ini tentu menjadi referensi bagi kami,” katanya.

Sementara itu, Manajer Distribusi Perumdam Air Minum Tirta Mangutama, Ketut Gede Suryawan menjelaskan, penerapan SWRO tidak sesederhana membangun instalasi pengolahan air laut. Pemilihan lokasi menjadi faktor penting karena berkaitan dengan efisiensi biaya distribusi dan energi.

Baca Juga:   Antisipasi DBD, Diskes Kota Denpasar Fogging Wilayah Kesiman

Menurutnya, jika air hasil SWRO harus didistribusikan ke kawasan perbukitan seperti wilayah Bukit Jimbaran dan sekitarnya, biaya operasional berpotensi meningkat karena memerlukan proses pemompaan ke elevasi yang lebih tinggi. “Kalau memang langsung disalurkan ke kawasan bukit, biayanya bisa membengkak karena air harus dipompa ke atas terlebih dahulu sebelum didistribusikan. Jadi harus dicari strategi yang tepat dalam pelaksanaannya,” jelasnya.

Suryawan menambahkan, mengingat biaya produksi air SWRO masih relatif tinggi dibanding sumber air konvensional, pemanfaatannya kemungkinan akan lebih diarahkan untuk sektor-sektor yang memiliki kebutuhan besar dan kemampuan membayar lebih tinggi, seperti industri pariwisata. “Belum tentu air SWRO ini diberikan kepada pelanggan rumah tangga. Bisa jadi lebih cocok untuk hotel atau kawasan tertentu yang memang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar. Modelnya bisa dibuat khusus untuk satu kawasan atau satu pelanggan besar,” katanya.

Baca Juga:   Kemenkes Beri Rekomendasi Pendirian Prodi dan Fakultas Kedokteran UHN I Gusti Bagus Sugriwa

Kajian terhadap SWRO menjadi bagian dari upaya Perumdam Tirta Mangutama mencari berbagai n sumber air baru guna mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan kebutuhan masyarakat di Badung Selatan yang terus meningkat setiap tahun. Jika dinilai layak secara teknis dan ekonomis, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu tulang punggung penyediaan air bersih di masa depan. (BC5)