balibercerita.com –
Peresmian Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Manado (Unima) menjadi angin segar bagi upaya pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Tak hanya membuka akses pendidikan kedokteran, FK Unima menghadirkan skema penerimaan mahasiswa yang dinilai inovatif karena memberi kesempatan bagi putra-putri daerah untuk menempuh pendidikan dokter dengan pembiayaan penuh dari pemerintah daerah.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto memberikan apresiasi tinggi terhadap kebijakan tersebut saat menghadiri peresmian FK Unima pada Kamis (11/6). Sebanyak 50 kuota mahasiswa angkatan pertama disiapkan khusus bagi putra-putri terbaik dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Utara melalui dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi serta pemerintah daerah.
Menurut Brian, tantangan sektor kesehatan nasional saat ini bukan hanya soal jumlah dokter, tetapi juga pemerataan tenaga medis hingga ke daerah-daerah yang masih kekurangan layanan kesehatan. “Kita memahami bahwa tantangan kesehatan Indonesia saat ini tidak semata-mata jumlah dokter, tetapi juga distribusi dokter untuk bertugas di daerah yang memang membutuhkan. Sungguh, saya bahagia bahwa selain Unima membuka FK, ternyata memperluas akses mahasiswa baru dari tiap kota, kabupaten, dan provinsi. Ini adalah capaian luar biasa,” tegas Brian.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa model seleksi dan pembiayaan yang diterapkan FK Unima telah dipelajari oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk disebarluaskan sebagai referensi bagi fakultas kedokteran lain di Indonesia.
Skema tersebut dinilai mampu menjadi solusi strategis dalam mencetak dokter yang berasal dari daerah dan diharapkan kembali mengabdi di wilayah asalnya, sehingga pemerataan layanan kesehatan dapat terwujud secara berkelanjutan. “Tim di Kemdiktisaintek sudah mempelajari model ini dan menyebarluaskannya ke fakultas kedokteran lain karena dinilai mampu memperkuat pemerataan layanan kesehatan melalui pengembangan dokter lulusan tiap daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unima, Joseph Philip Kambey menjelaskan bahwa penerimaan mahasiswa angkatan pertama FK Unima dilakukan melalui jalur rekomendasi pemerintah kabupaten dan kota se-Sulawesi Utara yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Meski menggunakan jalur afirmasi daerah, seluruh peserta tetap harus melalui seleksi akademik berstandar nasional dan psikotes yang ketat.
Proses seleksi tersebut dibimbing langsung oleh Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sebagai fakultas pembina guna memastikan kualitas lulusan yang dihasilkan.
Dari 50 kursi yang disediakan, baru 37 peserta yang dinyatakan memenuhi standar kelulusan nasional pada tahap pertama. Sementara 13 kursi sisanya akan diperebutkan kembali melalui seleksi lanjutan.
“Kami meyakini langkah yang kita resmikan hari ini akan menjadi gelombang perubahan besar di masa depan. Dengan dukungan dari Kemdiktisaintek, Pemerintah Sulawesi Utara, para kepala daerah, dan bimbingan tiada henti dari FK Universitas Brawijaya sebagai mentor, FK Unima akan tegak berdiri menjadi mercusuar keadilan kesehatan,” kata Joseph.
Menteri Brian juga berpesan kepada mahasiswa angkatan pertama agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Menurutnya, beasiswa yang diterima bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, melainkan amanah dari masyarakat dan negara untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik di daerah masing-masing. (BC5)

















