balibercerita.com –
Keluarga Besar Yoga Tertawa Bali (Bali Happy Movement) untuk pertama kalinya menggelar acara pesamuan agung yang dipusatkan di Pura Samuan Tiga, Kabupaten Gianyar, pada Rabu (27/5). Momentum bersejarah ini juga dirangkaikan dengan peluncuran (launching) buku sejarah perjalanan Yoga Tertawa di Pulau Dewata.
Penekun spiritual Bali modern sekaligus Founder Yoga Tertawa Bali, Sri Aji Adiguru Siwa Ambara menjelaskan bahwa pesamuan agung ini merupakan pertemuan besar yang menghadirkan tokoh-tokoh penting di dalam struktur Yoga Tertawa. Tercatat acara ini dihadiri oleh 12 pangelingsir, 8 mahaguru, 120 mahasiswa, 180 murid sejati, dan 240 instruktur Yoga Tertawa.
“Mereka-mereka inilah yang mengembangkan Yoga Tertawa sehingga Yoga Tertawa bisa meraih dua kali rekor MURI dan juga dikatakan sebagai kelompok yoga terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Pemilihan Pura Samuan Tiga sebagai lokasi acara memiliki makna historis yang sangat kuat. Sri Aji Adiguru Siwa Ambara, mengingatkan, sekitar 1.000 tahun lalu, tempat ini menjadi lokasi pertemuan besar yang diprakarsai oleh Mpu Kuturan. Pertemuan kala itu berhasil menyatukan masyarakat Bali yang tercerai-berai melalui konsep Kahyangan Tiga dan Desa Pakraman.
Melalui pesamuan agung ini, ia ingin mengajak seluruh elemen penting di Yoga Tertawa untuk meneruskan warisan leluhur yang telah teruji selama ribuan tahun, terutama di tengah derasnya arus informasi media sosial saat ini yang berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap warisan budaya. “Nanti akan ada tarian Tri Murti, tarian Tri Dewi, ada tarian Barong dan Rangda, itu karena kita di Bali adalah pemuja Siwa Durga. Di Yoga Tertawa ini harus dilanjutkan, inilah salah satu bakti kita kepada leluhur kita,” tambahnya.
Selain sebagai wadah pelestarian budaya, Sri Aji Adiguru Siwa Ambara mengimbau seluruh instruktur dan anggota Yoga Tertawa untuk tegak lurus mendukung dan mengikuti setiap kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga adat, tradisi, budaya, dan agama.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan penyadaran diri (self-awareness).
Menurutnya, pusat Yoga Tertawa bukan sekadar tempat olahraga, melainkan pusat penyembuhan dan penyadaran diri bahwa setiap manusia memiliki jiwa yang sama sebagai percikan kecil dari Sang Hyang Widhi Wasa. “Ketika kita menyadari di dalam diri kita ada dewa di deweke, maka kita akan menghormati semua. Itulah inti dari pertemuan agung yang kita adakan di Pura Samuan Tiga ini,” jelasnya.
Melalui pelaksanaan pesamuan agung ini, pihaknya berharap yoga tertawa dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesehatan mental dan kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian Bali. “Mudah-mudahan kita di Yoga Tertawa bisa memberikan subsidi minimal masyarakat kita lebih sehat, terutama yang kena penyakit pikiran, dan masyarakat kita lebih tersadarkan tentang pentingnya melestarikan adat tradisi budaya dan agama kita,” pungkasnya. (BC18)












