Tumpek Uduh Jadi Awal Gerakan Hijau, Desa Besan Tanam Harapan Lewat Program Satu Desa Satu Hutan

0
21
Satu desa satu hutan
Simbolis gerakan hijau di Desa Besan. (ist)

balibercerita.com –
Di tengah peringatan hari raya Tumpek Uduh yang sarat makna penghormatan terhadap alam, Desa Adat Besan, Klungkung, menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan lingkungan yang menggabungkan nilai budaya, pendidikan, dan konservasi. Yayasan Jati Nusa Lestari resmi meluncurkan program Satu Desa Satu Hutan Jati Nusantara, sebuah inisiatif yang mengajak masyarakat desa menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian alam.

Peluncuran program yang dipusatkan di kawasan Puncak Sari, Pura Puseh, Desa Adat Besan pada Sabtu (23/5), tidak sekadar menjadi kegiatan penanaman pohon. Gerakan ini dirancang sebagai upaya membangun kesadaran kolektif bahwa pelestarian lingkungan harus dimulai dari desa dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Ketua Yayasan Jati Nusa Lestari, Novi Dwi Jayanti mengatakan, Tumpek Uduh menjadi momentum yang tepat untuk menghidupkan kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam sebagaimana diajarkan dalam filosofi Tri Hita Karana. “Tumpek Uduh bukan hanya seremoni budaya, tetapi momentum untuk mengingat kembali hubungan suci manusia dengan alam. Melalui program Satu Desa Satu Hutan dan Sekolah Alam, kami ingin menghadirkan gerakan kolektif menjaga bumi dimulai di desa dan dilakukan oleh generasi muda untuk alam Bali dan Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:   Santunan Asuransi Mikro RUMAHKU BRI Tembus Rp60 Juta, Warga Jembrana Bangkit Pascakebakaran

Salah satu fokus kegiatan adalah penanaman pohon di kawasan tebing Desa Besan. Selain memperkuat tutupan hijau, langkah ini juga memiliki fungsi mitigasi bencana untuk membantu mencegah potensi longsor pada wilayah dengan kontur tanah yang rawan.

Menariknya, gerakan ini juga melibatkan generasi muda melalui program Sekolah Alam Jati Nusantara. Puluhan siswa SDN Besan diajak belajar langsung di alam terbuka, mengenal ekosistem hutan, memahami pentingnya konservasi lingkungan, hingga ikut menanam pohon.

Baca Juga:   Peringati HPSN 2026, Bupati Badung Pimpin Korve Bersih Sampah di Pantai Kuta

Bagi para siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang berbeda dari ruang kelas. Mereka tidak hanya menerima teori, tetapi juga merasakan langsung bagaimana menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Osila selaku guru perwakilan SDN Besan sekaligus penggerak pelestarian lingkungan di desa tersebut menilai pendekatan pendidikan berbasis alam sangat penting untuk membangun karakter peduli lingkungan sejak usia dini. “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk membangun kesadaran anak-anak terhadap lingkungan sejak dini. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami secara langsung bagaimana menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan dan budaya Bali,” katanya.

Baca Juga:   ILDI Badung Gaungkan Semangat Kartini Lewat Gathering dan Aksi Sosial

Melalui program Satu Desa Satu Hutan, Yayasan Jati Nusa Lestari ingin menghadirkan model konservasi yang tidak hanya berfokus pada penghijauan, tetapi juga memperkuat peran masyarakat adat dalam menjaga ruang hidup mereka. Gerakan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bali maupun Nusantara untuk membangun kawasan hijau berbasis partisipasi masyarakat, sekaligus menjaga warisan budaya dan lingkungan bagi generasi mendatang.

Berawal dari Desa Besan, sebuah pesan sederhana kembali digaungkan pada Hari Raya Tumpek Uduh yaitu menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, melainkan tugas bersama yang dimulai dari langkah kecil di lingkungan terdekat. (BC5)