Minum Kopi di Atas Jam Dua Siang dan Peran Faktor Genetik

0
18
Secangkir kopi. (ist)

balibercerita.com –
Kebiasaan minum kopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang, termasuk di Bali. Namun, waktu mengonsumsi kopi ternyata berpengaruh besar terhadap kualitas kesehatan, terutama jika diminum di atas pukul 14.00 atau jam 2 siang.

Para ahli menyebutkan bahwa konsumsi kafein di sore hingga malam hari dapat mengganggu pola tidur. Kafein bekerja dengan cara menghambat adenosin, zat kimia di otak yang memicu rasa kantuk. Akibatnya, tubuh tetap terjaga lebih lama meskipun sebenarnya sudah waktunya beristirahat.

Baca Juga:   ITDC Sukses Gelar The Lake Toba GP 2025, Rusty Wyatt Juara F1H2O Grand Prix of Indonesia

Tak hanya soal waktu, kemampuan seseorang dalam mengonsumsi kopi juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Setiap individu memiliki toleransi kafein yang berbeda-beda. Ada yang bisa minum kopi di malam hari tanpa gangguan tidur, namun ada pula yang sensitif meskipun hanya mengonsumsi sedikit kafein di siang hari.

Baca Juga:   Miss Cimory Awards 2026 Apresiasi Peran Ibu Rumah Tangga dalam Penguatan Ekonomi Keluarga

Faktor genetik ini berkaitan dengan cara tubuh memetabolisme kafein, terutama oleh enzim di hati. Orang dengan metabolisme cepat cenderung lebih toleran terhadap kopi, sementara mereka dengan metabolisme lambat akan merasakan efek kafein lebih lama dalam tubuh.

Selain gangguan tidur, konsumsi kopi terlalu sore juga dapat berdampak pada kualitas istirahat secara keseluruhan, meningkatkan risiko kelelahan, hingga berpengaruh pada konsentrasi dan produktivitas keesokan harinya.

Baca Juga:   Ciptakan Sekolah Sehat Jiwa, RSJ Manah Shanti Mahottama Luncurkan Inovasi Gelar Saji

Meski demikian, bukan berarti kopi harus dihindari sepenuhnya. Para ahli menyarankan agar konsumsi kopi dibatasi pada pagi hingga awal siang hari untuk mendapatkan manfaat optimal tanpa mengganggu ritme alami tubuh.
Dengan memahami waktu konsumsi dan kondisi tubuh masing-masing, masyarakat diharapkan dapat menikmati kopi secara lebih bijak tanpa mengorbankan kesehatan. (BC5)