Denpasar, balibercerita.com –
Siapa yang tidak kenal Taman Festival Bali di Pantai Padanggalak? Taman hiburan yang terbengkalai sejak tahun 1990-an itu dikenal mistis dan menyimpan sejumlah cerita horor. Selain karena bangunannya yang tua, taman yang berada di dekat pantai itu dikelilingi hutan dan grafity pada bangunannya. Namun siapa sangka, sebuah rumah produksi film yang berlokasi di Los Angeles dan Bali yaitu Good Form Bali memakai lokasi itu sebagai tempat syuting film aksi fiksi ilmiah berjudul Anomaly.
Film tersebut disutradarai oleh Brian L. Tan, yaitu pria yang berpengalaman mengerjakan visual effects untuk film-film blockbuster Hollywood seperti Tron: Legacy, X-Men dan Girl with the Dragon Tattoo. Sementara, Salvita De Corte serta Mike Lewis membintangi film yang diproduksi di Bali ini bersama Joseph J. U. Taylor, Quisha Saunders dan John Walker Six.
Brian L. Tan mengatakan, Bali merupakan lokasi yang sangat unik untuk film Anomaly. Selama ini, Hollywood hanya mengetahui Bali sebagai tempat pesta, wisata atau tempat spiritual. Karena itu pihaknya berupaya menjelajahi dan mengangkat sisi lain Pulau Dewata yang memiliki nilai magis dan lebih menyeramkan. Terlebih hal itu belum pernah digarap oleh siapa pun sebelumnya. “Film dan pengambilan gambar di taman hiburan yang dibiarkan terbengkalai di Sanur memberi kami latar belakang unik yang tidak dapat diberikan oleh tempat lain di dunia,” ungkapnya.
Film Anomaly sendiri menceritakan tentang ekspedisi sebuah tim tentara elit ke sebuah lokasi reruntuhan kuno di tengah hutan. Lokasi itu tiada lain mengambil setting di taman festival bali. Misi mereka adalah untuk mengamankan sebuah misteri anomali yang menunjukkan aktivitas tidak normal yang aneh. Apa yang biasanya menjadi misi rutin mereka, menjadi sebuah misi yang tak terduga. Ide film tersebut berasal dari pemikiran yang mempercayai bahwa musuh terburuk manusia sering berakhir di manusia sendiri. Semua pernah menjadi korban sabotase diri, pemikiran yang berlebihan dan keraguan diri yang disebabkan oleh pikiran sendiri.
Pendekatan genre film ini mencampurkan antara fiksi ilmiah dan aksi. Tujuannya, memberikan suguhan yang terbaik dari kedua dunia yang berbeda dengan sentuhan tropis. Ia mengaku selalu terinspirasi oleh film-film sci-fi membumi yang memiliki kaitan futuristik, tetapi masih relevan dan dapat erat dalam kehidupan saat ini. Diakuinya, pembuatan film itu cukup sulit dilakukan. Namun ia senang menggarapnya, karena hasilnya memuaskan.
“Belum pernah ada yang mencoba film aksi sebesar ini di Bali sebelumnya. Kami harus menggunakan kembali banyak senjata airsoft mainan dari Jakarta, membangun seluruh portal yang tampak seperti dunia lain di tengah hutan, menemukan kamera Red Gemini kedua yang cocok dengan milik kami, bekerja selama 14 jam penuh di akhir pekan di tengah hutan, dan menyulap helikopter yang berwarna oranye menjadi hitam,” bebernya.
Film tersebut juga melibatkan sinematografer dan produser, Austin Ahlborg, yang terkenal karena dengan karyanya di bidang komersial, naratif, dan dokumenter di seluruh dunia. Ia menilai syuting di Bali merupakan hal yang baru dan sangat unik. Selain dari sisi geografis dan lokasi syuting, para kru yang terlibat dalam film itu merupakan campuran antara ekspatriat dan Bali. “Kami selalu belajar dan mengalami hal-hal baru. Ini membuat tim kami sangat segar dan terinspirasi,” ucapnya.
Produser Eksekutif, Patrick Tashadian mengatakan, Indonesia mempunyai potensi besar di industri film. Selama beberapa dekade, banyak produksi film internasional yang mengambil lokasi di Indonesia. Hal itu mengindikasikan bahwa sekarang ini Indonesia terbukti sangat kompeten dan mahir secara teknis dalam menyediakan produksi yang mendukung dalam berbagai format mulai dari naratif, faktual dan variasi.

















