balibercerita.com –
Momentum berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi menjadi sangat krusial dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam upaya mengurangi emisi karbon. Hal ini menjadi sorotan utama dalam diskusi yang digelar bersama Schneider Electric Indonesia dan para pemangku kepentingan sektor kelistrikan di Bali.
Ketua Umum Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI), Achmad Sutowo Sutopo menegaskan pentingnya kesadaran akan efisiensi energi dalam pembangunan gedung cerdas atau smart buildings. Menurutnya, bangunan seperti ini tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga dapat menjadi sumber keuntungan (profit center).
“Masyarakat harus menyadari bahwa perilaku boros energi lama-kelamaan bisa membuat kita kehilangan kesejahteraan. Efisiensi energi harus dimulai dari sekarang. Sekecil apapun dampaknya, jika dikumpulkan akan menjadi besar,” ujarnya di sela-sela Innovation Day 2025 di Bali yang digelar pada Rabu (3/9), di Nusa Dua.
Sutopo juga menyoroti pentingnya pemerataan pengetahuan, khususnya di Bali yang memiliki pangsa besar dalam sektor pariwisata dan properti. Ia menegaskan bahwa Bali harus menjadi bagian penting dalam transisi menuju bangunan ramah lingkungan, bukan sekadar sebagai target pembangunan yang datang dari pusat. “Orang Bali harus ikut menikmati manfaatnya, jangan sampai yang dari Jakarta malah lebih banyak merasakan hasilnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Business Vice President Buildings Schneider Electric Indonesia, Reza Syarif menyampaikan bahwa Bali memiliki peran strategis dalam transisi energi karena menjadi pusat hospitality nasional dan lokasi pembangunan rumah sakit internasional berkonsep tourism hospital. “Bali penting karena di sinilah kita dapat menunjukkan bahwa konsep net-zero building bukan sekadar teori, tetapi bisa diwujudkan dan masuk dalam perhitungan finansial,” kata Reza.
Menurut Reza, banyak pelaku industri memiliki niat untuk bertransformasi ke arah yang lebih berkelanjutan, tapi masih bingung harus memulai dari mana. Untuk itu, Schneider Electric aktif mengajak berbagai pihak duduk bersama, menyusun strategi, mengevaluasi langkah, serta merancang aksi nyata yang dapat dilakukan secara kolektif.
Lebih jauh, kedua narasumber sepakat bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, asosiasi profesi, dan akademisi sangat penting dalam mendorong pembangunan rendah emisi. Sertifikasi keahlian kerja juga dianggap aspek krusial guna memastikan kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung pembangunan net-zero building di Indonesia.
Perlu diketahui, Innovation Day 2025 di Bali merupakan ajang pertemuan para pemimpin global dalam transformasi digital untuk pengelolaan energi dan otomasi yang diselenggarakan oleh Schneider Electric Indonesia. Bali menjadi kota terakhir dalam rangkaian penyelenggaraan Innovation Day tahun ini.
Dengan mengusung tema “Powering Bali’s Sustainable Future with Net-Zero Buildings,” forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat adopsi solusi berkelanjutan di sektor bangunan dan hunian yang efisien, rendah emisi, serta selaras dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060 dan Bali Net Zero Emission 2025. Melalui rangkaian diskusi dan demonstrasi teknologi inovatif, Schneider Electric menghadirkan solusi nyata untuk menciptakan ekosistem bangunan dan hunian yang aman dan berkelanjutan. (BC5)



















