Denpasar, balibercerita.com —
Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5i) tengah menghadapi tantangan besar dalam ekspor produk perikanan sejak April 2025. Hal ini terutama disebabkan oleh penerapan tarif baru oleh pemerintah Amerika Serikat, yang menjadi pasar utama ekspor produk perikanan Indonesia.
Ketua AP5i, Budi Wibowo menjelaskan bahwa meskipun tarif ekspor ke AS telah diturunkan dari 31 persen menjadi 19 persen setelah kunjungan Presiden Prabowo ke negara tersebut, angka tersebut masih cukup tinggi dan berdampak signifikan bagi pelaku industri. “Tarif 19 persen itu tetap menjadi beban. Sekitar 35 persen ekspor perikanan Indonesia masih bergantung pada pasar Amerika. Dunia usaha kami terus mencari alternatif,” ujarnya.
Sebagai respons, AP5i kini mulai aktif mencari pasar ekspor baru. China menjadi salah satu target utama mengingat potensi konsumsi yang sangat besar, namun selama ini belum banyak dimanfaatkan oleh eksportir Indonesia. Selain itu, pasar Timur Tengah, Korea Selatan, Taiwan, dan Rusia juga tengah dijajaki.
Di tengah tekanan eksternal, AP5i juga melihat potensi besar dari pasar domestik yang selama ini kurang dimaksimalkan. “Pasar dalam negeri sebenarnya sangat luas dan menjanjikan, namun kerap terlupakan. Dengan adanya tantangan ekspor, pasar domestik menjadi solusi yang layak digarap,” kata Budi.
Untuk memperkuat jaringan dan promosi di pasar lokal dan internasional, AP5i bekerja sama dengan Krista Exhibitions dalam penyelenggaraan pameran dagang dan produk makanan Bali Interfood. Menurut Budi, pameran seperti ini merupakan sarana efektif untuk membuka peluang relasi baru.
Berdasarkan data AP5i, nilai ekspor produk perikanan Indonesia saat ini mencapai USD 5 miliar per tahun. Udang menjadi komoditas utama dengan nilai ekspor sebesar USD 1,9 miliar dan volume mencapai 215 ribu ton dari total 1 juta ton ekspor perikanan nasional.
Namun, kontribusi pasar domestik masih sangat kecil, diperkirakan belum mencapai 10 persen. Ke depan, AP5i menargetkan peningkatan konsumsi udang dalam negeri hingga mencapai angka tersebut, sejalan dengan strategi diversifikasi pasar yang kini tengah dijalankan. (BC5)



















