balibercerita.com –
Ribuan warga berbusana adat madia yang didominasi warna hitam memadati Balai Budaya Giri Nata Mandala pada Minggu (15/2). Kehadiran mereka untuk menyemarakkan sekaligus menyukseskan Mahasabha VII Warga Kayuselem Gwasong Bali Nusantara 2026, forum tertinggi organisasi yang menjadi momentum memperkuat persatuan pasemetonan.
Antusiasme peserta tidak hanya datang dari seluruh penjuru Bali, tetapi juga dari luar daerah seperti Lampung dan Sumbawa. Kehadiran lintas wilayah tersebut mencerminkan kuatnya ikatan genealogis dan spiritual Warga Kayuselem yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara.
Sekretaris Panitia, I Wayan Sukarya saat membacakan laporan ketua panitia, I Wayan Suyasa menegaskan bahwa tingginya partisipasi peserta sejalan dengan tujuan Mahasabha VII, yakni memperkuat organisasi, menjaga persatuan, serta menentukan arah kebijakan demi keharmonisan Warga Kayuselem Bali Nusantara.
“Mahasabha merupakan wadah pengambilan keputusan tertinggi yang melibatkan seluruh unsur dadia untuk mengevaluasi kepengurusan sebelumnya, menetapkan program kerja, memilih kepengurusan baru, sekaligus menyempurnakan aturan organisasi,” ujarnya.
Sedikitnya 3.000 peserta hadir, terdiri dari Warga Kayuselem, pengurus dadia, majelis kecamatan dan kabupaten, perwakilan WKS Lampung dan WKS Sumbawa, Paiketan Daha Truna, Paiketan Para Istri, Bala Bali Mula, serta berbagai undangan lainnya.
Melalui forum ini diharapkan lahir pertanggungjawaban program kerja lima tahun sebelumnya sekaligus penyusunan program lima tahun ke depan, guna memperkuat rasa persaudaraan “Bermatadara” yang bermakna Bersatu, Bermartabat, Mandiri, Tangguh, Damai, dan Sejahtera.
Apresiasi juga disampaikan Pengurus Pusat yang menegaskan identitas Warga Kayuselem sebagai bagian dari Bali Mula dengan Pura Kawitan di Desa Songan, wilayah Kintamani. Saat ini tercatat 811 dadia dengan sekitar 9.627 kepala keluarga tersebar di seluruh Bali hingga luar daerah.
Mahasabha VII diharapkan melahirkan warga yang berkarakter, sadar jati diri, serta mandiri menghadapi dinamika zaman. Kepercayaan dan gotong royong ditegaskan sebagai fondasi utama agar program organisasi berjalan berkelanjutan.
Sambutan Gubernur Bali yang dibacakan Kepala Bidang Kesenian Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Putu Agus Yudiantara menyoroti pentingnya keseimbangan sekala dan niskala. Bhakti kepada kawitan disebut sebagai api spiritual yang menjaga taksu Bali agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi.
Menurutnya, pembangunan Bali tidak dapat dilakukan pemerintah semata. Peran pasemetonan seperti Warga Kayuselem sangat strategis dalam menjaga ketahanan adat, budaya, dan spiritual sekaligus menghadapi tantangan seperti alih fungsi lahan, gempuran budaya asing, hingga tekanan ekonomi global.
Mahasabha VII pun diharapkan tidak hanya menghasilkan program penguatan internal, tetapi juga berkontribusi nyata bagi solusi persoalan masyarakat, sekaligus mengukuhkan komitmen bersama menjaga Bali tetap berwibawa di masa depan. (BC5)
















