Setelah berjalan beberapa saat, tibalah pamedek di Pancuran Tirta Prapen. Di pancuran yang relatif kecil ini pamedek terlebih dahulu malukat. Kurang lebih 7 meter, terdapat Batu Lingga. Pamedek sembahyang dan sujud di batu tersebut. Batu ini berukuran besar. Hanya ditopang beberapa batu kecil, batu ini kokoh berdiri di dataran yang lebih tinggi dibanding bibir sungai.
Di dasar Batu Lingga terdapat cekungan yang berukuran kira-kira cukup untuk tempat seseorang duduk di dalamnya, namun dalam posisi yoga rare jeroning garba atau seperti anak dalam kandungan. Posisi yoga ini sangat sulit dilakukan. Cukup banyak pasangan suami-istri yang memohon keturunan di sini dan berhasil. Bahkan ada warga negara asing yang pernah membuktikannya. Selain dianggap suci, Batu Lingga ini sekaligus menunjukkan sepanjang kawasan Pura Taman Pecampuhan Sala merupakan peninggalan peradaban kuno.
Dari kawasan Batu Lingga, pamedek kembali mengarah ke sebuah grojogan atau air terjun untuk malukat. Tuntas di tempat itu, pamedek akan menuju Pasraman Tan Hana. Medannya cukup sulit, karena pamedek harus memanjat bebatuan sungai dengan ketinggian sekitar 2 meter dan memasuki Goa Song. Disebut demikian, karena ukurannya tidak besar untuk disebut goa, namun tidaklah terlalu kecil untuk hanya disebut song (lubang).
Ke luar dari goa kecil inilah pamedek akan menemukan kawasan suci yang disebut Pasraman Tan Hana. Pasraman ini tidak dapat dilihat secara kasat mata. Di sini terdapat Pancoran Tirta Pule dan Gerojogan Pasraman Tan Hana. Di gerojogan atau air terjun ini selain malukat, pamedek juga diharapkan mengitari batu besar di bawah air terjun itu sebanyak tiga kali.
Dari Pasraman Tan Hana, pamedek kembali ke arah pura menuju kawasan pancuran utama. Di kawasan ini, pamedek menuju Pancoran Tirta Bolakan dan Pancoran Tirta Taman. Dipercaya tirta pancuran bisa menyembuhkan beragam penyakit medis. Pamedek kemudian menuju kawasan pancuran di atasnya. Di sebelah kanan terdapat Pancoran Tirta Bungbung. Tirta ini dipercaya untuk melebur permasalahan ekonomi.
Pamedek yang biasanya nunas tirta di sini adalah para pedagang. Kemudian di sebelah utaranya terdapat Pancoran Tirta Taman. Permohonan biasanya terkait ipian ala atau mimpi buruk. Berikutnya Pancoran Tirta Tulak Wali. Tirta di pancuran ini yang biasanya banyak dicari, karena untuk menghilangkan black magic.
Kemudian pamedek menuju pancuran berikutnya yakni Pancoran Tirta Utama. Sumber airnya berasal dari Goa Naga Raja. Tirta di Pancoran Tirta Utama adalah untuk memohon kerahayuan dan keselamatan jagat. Setelah tuntas, pamedek diminta berganti pakaian dan nunas tirta wangsuhpada, serta menuju jeroan Pura Taman Pecampuhan Sala untuk melakukan persembahyangan. (BC13)













