Prosesi malukat di pura ini relatif panjang, memakan waktu sekitar 1,5 jam. Belasan tempat malukat akan menjadi destinasi bagi pamedek. Tahap pertama, matur piuning di depan kompleks pancuran di pura tersebut. Kemudian, pamedek ganti pakaian untuk malukat karena dipastikan pamedek akan basah kuyup. Bagi pamedek yang kali pertama tangkil diharapkan membawa sarana berupa dua pejati untuk dihaturkan di kawasan utama malukat dan di jeroan pura.
Pamedek juga perlu membawa canang cukup banyak untuk dihaturkan di tiap-tiap lokasi malukat. Pamedek juga mesti berhati-hati, sebab meskipun pemandangannya memanjakan mata, namun untuk menyusuri alur sungai penuh bebatuan tersebut tentu perlu tenaga dan kewaspadaan ekstra. Bagi yang suka memotret dan selfie, di sepanjang sungai dengan tebing tinggi dan air terjunnya ini bisa jadi lokasi foto yang sempurna.
Lokasi malukat pertama berupa campuhan atau pertemuan arus sejumlah sungai, yang dalam hal ini ada dua sungai (dwi weni). Di campuhan inilah konon para roh suci dan para dewa kerap berkunjung sehingga mampu memancarkan vibrasi kesucian. Pamedek menghaturkan canang dan bersembahyang dengan mencakupkan tangan di palinggih di pecampuhan sebelum malukat. Di campuhan juga terdapat Palinggih Ayengan Batara Baruna.
Perjalanan menyusuri sungai dilanjutkan ke utara menuju air terjun yang dinamai Grojogan Pasiraman Dedari. Di sana terdapat lubang cukup besar yang terkadang dangkal, kadang dalam. Pamedek diharapkan berhati-hati karena medannya cukup sulit. Menurut Ketut Kayana, sejumlah pamedek mengaku pernah melihat sosok bidadari dan naga di kawasan ini.
Dari sana, pamedek putar balik menuju aliran sungai di arah barat. Di sepanjang alur sungai menuju Pasraman Tan Hana inilah konon terdapat komunitas tak kasat mata. Pamedek, termasuk tim Bali Bercerita pun diingatkan agar tidak berpikir atau mengeluarkan kata-kata tidak baik atau tidak senonoh. Tak hanya itu, pamedek jangan coba-coba mengambil sesuatu baik berupa batu, kayu dan sebagainya di kawasan ini. Mengambil suatu benda di kawasan ini merupakan hal terlarang. Sudah ada bukti beberapa pamedek yang merasakan dampak buruknya, sehingga mereka harus kembali ke pura ini untuk meminta maaf.













