Menuju Bali Net Zero 2045, Kolaborasi Multisektor dalam Mewujudkan Bangunan dan Hunian Berkelanjutan

0
220
Bali Net Zero
Martin Setiawan saat memperkenalkan Vivace E. (BC5)

balibercerita.com –
Sebagai salah satu destinasi pariwisata terkemuka dunia, Bali mencatat pertumbuhan sektor properti yang pesat. Pada tahun 2024, sektor real estate menyumbang 3,84 persen atau senilai Rp11,45 triliun terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Bali. Di sisi lain, sektor hospitality, dengan 593 hotel berbintang dan 8.152 restoran, terus menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Penambahan sebanyak 3.253 kamar dari 23 proyek hotel hingga 2027, serta pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, memperkuat posisi Bali sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, pertumbuhan ini juga membawa tantangan besar, khususnya dalam hal konsumsi energi yang tinggi.

Hotel bintang lima di Bali mencatat rata-rata konsumsi energi sebesar 183 kWh per kamar per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Jakarta (131 kWh) dan Yogyakarta (85 kWh). Data ini menegaskan pentingnya pengelolaan energi yang efisien dan berkelanjutan guna mendukung target Bali Net Zero Emission 2045. Tantangan ini juga membuka peluang bagi Bali untuk tampil sebagai pionir dalam adopsi bangunan dan hunian berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai bagian dari strategi nasional menuju pembangunan rendah karbon, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya telah menetapkan standar Bangunan Gedung Hijau (BGH) melalui Permen PUPR No. 21/2021 dan Bangunan Gedung Cerdas (BGC) melalui Permen PUPR No. 10/2023.

Baca Juga:   Bupati Badung Adi Arnawa Lantik 1.477 ASN, Dorong Profesionalitas dan Digitalisasi Pelayanan Publik

Implementasi regulasi ini menjadi semakin relevan dengan pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata dan hunian di Bali, sekaligus membuka peluang replikasi di tingkat nasional. “Sektor bangunan dan hunian memegang peran besar dalam konsumsi energi sekaligus potensi pengurangan emisi. Penerapan Bangunan Gedung Hijau dan Cerdas menjadi fondasi untuk memastikan pembangunan yang efisien, aman, dan berkelanjutan, termasuk di daerah pariwisata seperti Bali,” ucap Fajar Santoso Hutahaean, Kepala Balai Teknik Sains Bangunan.

Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste menambahkan, transformasi menuju bangunan dan hunian berkelanjutan hanya bisa tercapai jika pemerintah, industri, dan masyarakat bergerak bersama. Innovation Day Bali menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor dan teknologi digital dapat mempercepat pencapaian hunian yang efisien, aman, dan rendah karbon.

Dalam acara juga dilaksanakan diskusi panel bertajuk “Transformasi Hijau di Sektor Hospitality: Dari Operasi Cerdas Menuju Keberlanjutan. Di sini dibahas bagaimana sektor perhotelan dan layanan kesehatan di Bali dapat menjadi pelopor dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan.

Acara menghadirkan Azhar Pangarso Laksono selaku Perekayasa Ahli Muda Balai Teknik Sains Bangunan Ir. Achmad Sutowo Sutopo selaku Ketua Umum Himpunan Ahli Elektro Indonesia (HAEI), Alex Wiwoho, Director of Engineering Raffles Jakarta. “Transformasi menuju bangunan cerdas dan hijau tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia. HAEI terus mendorong peningkatan kapasitas tenaga ahli elektro agar mampu menjawab tantangan transformasi energi,” ucap Ir. Achmad Sutowo.

Baca Juga:   Animo Institusi Terhadap Kripto Tumbuh, Bali Punya Potensi Besar

Pesatnya pertumbuhan sektor hunian dan properti di Bali membawa tantangan baru dalam menjamin pembangunan yang tidak hanya estetis dan nyaman, tetapi juga aman dan berkelanjutan. Sejumlah insiden kebakaran akibat korsleting listrik sepanjang 2024–2025, termasuk insiden besar yang menghanguskan 20 villa di Seminyak dengan kerugian mencapai Rp12 miliar, menjadi peringatan akan pentingnya sistem kelistrikan yang andal.

Perencanaan Kelistrikan yang Aman untuk Hunian Berkelanjutan dibahas dalam diskusi panel kedua. Diskusi ini menghadirkan Ir. Hanat Hamidi selaku Koordinator Standardisasi Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, I Wayan Agus Novi Darmawan selaku Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Bali, Christian Sugiono selaku Chief of Sugi Group. Diskusi ini menyoroti pentingnya integrasi sistem kelistrikan yang aman, pemanfaatan teknologi efisiensi energi, serta perencanaan menyeluruh sejak awal proses pembangunan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam membangun hunian yang aman dan mendukung target Net Zero Emission.

Baca Juga:   Lima Tahun Terakhir, Ini Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Terpanjang di Bali 

Ir. Hanat Hamidi menegaskan, dengan proyeksi kebutuhan listrik rumah tangga mencapai 28 persen pada 2060, keselamatan ketenagalistrikan di sektor residensial akan menjadi semakin krusial. Penerapan SNI dan perangkat proteksi seperti RCCB dan RCBO adalah fondasi penting untuk melindungi hunian dan penghuninya.

Sebagai bagian dari agenda acara, Schneider Electric meluncurkan Vivace E, rangkaian saklar dan stopkontak bergaya modern dengan fitur keamanan shutter, desain tanpa bingkai, pilihan warna elegan, serta kemudahan instalasi untuk berbagai gaya interior.

Schneider Electric juga memperkenalkan EcoStruxure™ Building Operation 7.0, platform manajemen gedung dengan arsitektur terbuka dan keamanan siber yang diperkuat. Solusi ini memungkinkan integrasi sistem yang cepat dan efisien untuk mendukung operasional bangunan yang rendah emisi.

Melalui area Innovation Hub, Schneider Electric menampilkan solusi digital unggulan seperti EcoStruxure Building Operation, Guest Room Management Solutions, EasyPact Solar MCCB, SM AirSet™, EVLink, RCCB Domae, Off-grid Portable Power Station, EcoConsult Energy Audit, dan EcoStruxure Service Plan. Solusi-solusi ini menggambarkan bagaimana teknologi dapat mempercepat transformasi sektor bangunan dan hunian menuju ekosistem yang terdigitalisasi, efisien, dan rendah karbon. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini