Lawar Don Jepun, Kuliner Khas Desa Adat Dukuh Penaban

Lawar
Lawar don jepun khas Desa Adat Dukuh Penaban. (ist)

Amlapura, balibercerita.com – 

Selain dikenal memiliki bunga yang indah, tanaman kamboja ternyata bisa menjadi bahan dasar lawar. Seperti yang ada di Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem. 

Lawar don jepun tergolong unik karena hanya dapat ditemui di Desa Adat Dukuh Penaban. Tradisi mengolah daun jepun menjadi lawar dilaksanakan turun temurun sejak Pura Puseh setempat didirikan. Setiap piodalan di Pura Puseh, lawar don jepun wajib menjadi sarana persembahan.

Di tangan terampil warga setempat, lawar don jepun tidaklah terasa pahit seperti yang dibayangkan. Lawar don jepun memakai daun kamboja khas bali yang tidak terlalu muda ataupun tua. Tulang daun dan daun kamboja dipisahkan, untuk kemudian diiris tipis-tipis dan direbus dalam waktu tertentu. Setelah matang dan ditiriskan, beberapa menit kemudian kembali dikukus. Setelah itu baru bisa diolah dengan dicampur bumbu khas Bali berupa basa genep. 

Baca Juga:   Festival Seni Budaya Kuta Kembali Ditiadakan

Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya menerangkan, lawar don jepun merupakan olahan wajib setiap Penampahan Galungan, Penampahan Kuningan, serta piodalan di Pura Puseh yang bertepatan pada Purnama Kapat, Purnama Kapitu, Tilem Kesanga dan Purnama Kedasa. Pada hari tertentu, warga membuat lawar don jepun itu untuk dipersembahkan di Pura Puseh dan Pura Bale Agung. Masyarakat setempat menyebut hal itu dengan istilah nyaud lawar don jepun. 

Setelah dihaturkan ke masing-masing palinggih, lawar dibagi rata kepada warga atau dipakai sebagai lauk tradisi magibung. “Biasanya lawar don jepun itu ditanding (disajikan) banten bersama dengan lawar kelapa, lawar daun belimbing dan sate. Itu namanya banten saudan,” ucapnya.

Baca Juga:   MGTH Buleleng Bisa Jadi Mitra Pemerintah dalam Pembangunan

Dipaparkan, lawar don jepun erat kaitannya dengan sejarah tradisi nyaud yang berhubungan dengan awal pembangunan Pura Puseh Desa Adat Dukuh Penaban. Hal tersebut tersirat dalam salah satu lontar yang disimpan warga setempat. Saat pembangunan Pura Puseh, para tetua desa harus meratakan bukit selama bertahun-tahun lamanya, karena mereka hanya menggunakan alat seadanya. 

Dalam pengerjaannya, mereka dihadapkan dengan kondisi dan musim yang menantang seperti paceklik, musim hujan dan musim panas yang datang berulang kali. “Sebagai bekal (sangu) makan, para tetua saat itu membawa bekal dengan menu berupa aneka sayur-sayuran. Karena pada suatu musim daun kamboja yang paling tumbuh subur, maka mereka kemudian berinisiatif untuk menggunakan daun kamboja sebagai menu bekal. Hal itu kemudian berlanjut hingga sampai saat ini dan terus dilestarikan,” ujarnya. 

Baca Juga:   Suara Batu Kerug di Pura Ini Dipercaya Sebagai Tanda Mulainya Musim Hujan  

Kendati pohon kamboja memiliki musim gugur, namun setiap pelaksanaan hari besar keagamaan di Desa Adat Dukuh Penaban daun itu selalu didapatkan untuk diolah menjadi lawar. Kuliner khas ini bisa dicicipi di Museum Pusaka Lontar Dukuh Penaban, namun harus dipesan terlebih dahulu agar bisa disiapkan. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini