Gepeng Beroperasi Dini Hari di Kuta Utara, Cari Iba Wisatawan yang Pulang Dugem

0
73
Gepeng di Kuta Utara
Personel Satpol PP BKO Kuta Utara saat melakukan sidak dini hari. (ist)

balibercerita.com –
Fenomena gelandangan dan pengemis (gepeng) di kawasan wisata Kuta Utara menunjukkan pola yang tak lazim. Alih-alih beroperasi pada siang hingga malam hari, para gepeng justru memilih beraktivitas pada dini hari dengan menyasar wisatawan yang baru keluar dari tempat hiburan malam.

Mencari iba wisatawan yang baru keluar dari tempat hiburan malam menjadi modus gelandangan dan pengemis (gepeng) di kawasan Kuta Utara. Beroperasi pada dini hari, para gepeng menyasar wisatawan dalam kondisi lengah dan empatik. Tak jarang, niat menolong justru berujung tekor setelah wisatawan mengajak berbelanja, namun akhirnya gepeng yang diajak justru memanggil gerombolan rekan-rekannya untuk ditraktir.

Berkaca dari hal itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Badung BKO Kecamatan Kuta Utara terus menggelar inspeksi mendadak (sidak). Pada Selasa (3/2) dini hari, operasi penertiban dilakukan di sejumlah titik, seperti Jalan Pantai Batu Bolong, Pantai Berawa, dan Kayu Aya. Sidak sengaja digelar pada pukul 01.00 hingga 04.00 Wita, menyesuaikan jam operasi para gepeng dan waria.

Baca Juga:   Masyarakat Bhuana Giri Dilatih Hadapi Potensi Erupsi Gunung Agung

Dari hasil sidak, petugas mengamankan lima orang gepeng yang terdiri dari dua orang dewasa dan tiga anak-anak. Seluruhnya diketahui berasal dari Kabupaten Karangasem dan telah diserahkan ke Dinas Sosial untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Seizin Kepala Satpol PP Badung, Komandan Regu (Danru) BKO Kecamatan Kuta Utara, Putu Agustina menjelaskan bahwa pemilihan waktu dini hari bukan tanpa alasan. Para gepeng memanfaatkan kondisi psikologis wisatawan yang baru pulang dari klub malam, di mana rasa iba dan empati cenderung lebih tinggi.

“Mereka mencari rasa iba wisatawan yang keluar dari club malam. Pernah ada kejadian wisatawan sampai mengeluarkan belasan juta rupiah karena mentraktir gepeng. Awalnya wisatawan iba, lalu diajak berbelanja, namun ternyata gepeng tersebut memanggil semua anggotanya hingga membuat wisatawan itu tekor,” ungkap Putu Agustina.

Baca Juga:   Aplikasi Borneopedia Resmi Diluncurkan

Dalam sidak kali ini, jumlah gepeng yang terjaring tergolong minim. Hal tersebut dipengaruhi hujan deras yang mengguyur wilayah Kuta Utara saat operasi berlangsung. Sejumlah lokasi yang biasanya kerap ditemukan gepeng, seperti Jalan Pantai Canggu dan Berawa, terpantau relatif sepi.

Putu Agustina menegaskan, penertiban tersebut merupakan kegiatan rutin dalam rangka menjaga ketentraman dan ketertiban umum wilayah. Sebanyak 22 personel Satpol PP BKO Kuta Utara diterjunkan untuk mengantisipasi potensi pelanggaran Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibumtranmas). Selain gepeng, sidak juga menyasar waria yang dinilai memiliki potensi kerawanan tersendiri.

Baca Juga:   Kemarau Dibarengi El Nino, Ini Wilayah di Bali yang Alami Kekeringan Ekstrem

Beberapa kali, keberadaan waria di kawasan tersebut memicu gesekan antar sesama hingga berujung perkelahian. Oleh karena itu, pendekatan preventif dan edukatif terus dilakukan.

Guna mencegah terulangnya kejadian wisatawan menjadi korban, Satpol PP Badung juga melakukan edukasi kepada sejumlah minimarket di sekitar lokasi. Langkah ini diambil agar pihak minimarket dapat ikut memberikan pemahaman kepada wisatawan dan menjaga citra pariwisata Badung serta Bali secara umum. “Jadi kita lakukan edukasi juga kepada pihak minimarket untuk dapat mengimbau agar kejadian itu tidak terjadi lagi,” jelasnya.

Meski demikian, Putu Agustina mengakui penanganan gepeng masih menghadapi berbagai kendala. Para gepeng kerap kembali beroperasi meski sudah berulang kali ditertibkan, bahkan muncul wajah-wajah baru. Keterbatasan tempat penampungan juga menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan jangka panjang. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini