balibercerita.com –
Upaya mengembalikan kapasitas aliran Tukad Mati terus dikebut Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Badung. Setelah berjalan sejak 2025, pengerukan sedimentasi kini dipercepat dengan menambah alat berat di lokasi pekerjaan.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Badung, AA Rama Putra mengatakan, penambahan armada dilakukan untuk mempercepat penyelesaian normalisasi alur Tukad Mati. Sebelumnya, hanya satu alat berat yang beroperasi, namun kini jumlahnya menjadi dua unit.
“Sudah sekitar sepekan kemarin kami tambah lagi satu alat berat yang sebelumnya dipergunakan di Taman Ayun. Tujuannya tentu saja untuk mempercepat,” ujar Gung Rama.
Normalisasi dilakukan melalui pengerukan sedimentasi dan pemeliharaan ringan untuk mengoptimalkan kapasitas aliran sungai. Sejak program dimulai pada 2025, sedimentasi yang telah dikeruk dan diangkut tercatat mencapai sekitar 600 truk.
Dalam sehari, pengangkutan endapan dari lokasi pengerukan dapat mencapai hingga 15 truk. Material sedimentasi tersebut diangkut secara bertahap sehingga proses normalisasi dapat terus berjalan tanpa mengganggu aktivitas di sekitar alur sungai.
Gung Rama menjelaskan, pekerjaan dilaksanakan setelah melalui koordinasi dan mendapatkan izin resmi dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida. Pengerukan dilakukan mulai dari titik trash rake hingga kawasan long storage.
Saat ini, pekerjaan masih menyisakan sekitar 300 meter alur sungai di bagian utara dan selatan Jembatan Naga. Bagian tersebut memiliki lebar yang bervariasi dan menjadi salah satu fokus penyelesaian normalisasi.
“Pekerjaan normalisasi di alur Tukad Mati ini sudah berjalan sejak tahun lalu. Yang belum itu di utara dan selatan Jembatan Naga. Kurang lebih itu lagi 300 meter dengan lebar bervariasi,” jelasnya.
Tahap saat ini difokuskan pada pemerataan elevasi atau level dasar sungai. Pekerjaan tersebut ditargetkan berlangsung sekitar satu hingga dua bulan ke depan sebelum dilanjutkan dengan penataan kemiringan dasar sungai.
Penataan kemiringan akan diarahkan menuju sisi selatan untuk membantu memperlancar aliran air menuju muara. Dengan dasar sungai yang lebih tertata, kapasitas aliran diharapkan dapat lebih optimal, terutama ketika debit air meningkat.
Penambahan alat berat menjadi bagian dari strategi percepatan agar seluruh tahapan normalisasi dapat segera diselesaikan. Setelah pengerukan rampung, pekerjaan akan dilanjutkan dengan penataan alur sesuai kebutuhan teknis di lapangan. Normalisasi Tukad Mati yang dilakukan secara bertahap diharapkan dapat menjaga fungsi sungai sekaligus meningkatkan kemampuan alur dalam menampung dan mengalirkan air. (BC5)


















