Mangupura, balibercerita.com –
Sebagai destinasi pariwisata internasional, Pantai Kuta sudah sangat familiar di mata wisatawan mancanegara. Masyarakat setempat pun sudah sangat mudah membaur dengan wisatawan. Saking akrabnya jalinan hubungan tersebut, para pedagang Pantai Kuta ternyata memiliki nama internasional yang diberikan wisatawan.
Nama pemberian itu menjadi nama panggilan yang terkadang mereka cantumkan dalam atribut pakaian yang dikenakan. Hal itu dilakukan untuk mempermudah wisatawan mengenali pedagang langganannya.
Satu diantara pedagang itu adalah Ni Nengah Mundel. Nenek berusia 60 tahun ini mengaku diberikan nama panggilan Maorin oleh seorang wisatawan asal Australia, yang merupakan pelanggannya. Ia diberikan nama tersebut karena pelanggannya sulit menemukan dirinya saat berjualan.
“Saya berjualan di Pantai Kuta sudah sejak tahun 1987. Jadi nama Maorin itu diberikan oleh wisatawan asal Australia yang umurnya sama dengan saya. Dia sudah sering ke Bali dan berbelanja di saya,” ungkapnya.
Nama panggilan itu kemudian diperkenalkan dirinya kepada semua pedagang acung yang ada di Pantai Kuta. Hal itu membuat dirinya sering dipanggil dengan panggilan Maorin. Sayangnya, belakangan ini ia terkadang lupa dengan panggilan itu sehingga ia kemudian menuliskan nama itu pada topi yang ia pergunakan berjualan. Dengan demikian ia bisa mengingat nama panggilannya setiap melihat topi itu.
“Kalau sesama pedagang sudah jarang manggil nama asli Bali lagi. Jadi namanya semua berubah saat sudah berada di Pantai Kuta,” sebutnya.
Hal serupa juga dialami Ni Made Toyo. Wanita berumur 63 tahun ini bahkan memiliki 2 nama panggilan internasional, yairu Kaorichang dan Judy. Nama Kaorichang merupakan pemberian seorang artis asal Jepang yang sangat ramah dan sering menemuinya di Pantai Kuta. Nama tersebut diberikan setelah kejadian bom Bali.
Saat itu ia belum mengetahui bahwa pelanggannya itu merupakan salah satu artis Jepang. Ia baru tahu karena beberapa kerabatnya sering melihat pelanggannya itu tampil di stasiun TV Jepang. “Saya juga tidak mengerti, tiba-tiba dia bilang mau kasi nama Kaorichang. Saya manggut saja ketika diberikan nama itu. Sampai saat ini saya masih tetap menggunakan nama panggilan itu berjualan di Pantai Kuta,” terangnya.
Sementara untuk nama Judy, ia mengaku diberikan panggilan itu dari wisatawan Australia. Nama itu juga digunakannya dirinya saat berjualan di Pantai Kuta. Dengan menuliskan kedua nama panggilan itu ia berharap pelanggannya itu bisa datang kembali ke Kuta. Sebab, ia mengaku sudah cukup lama tidak bertemu dan ia mulai lupa wajah mereka. “Semoga mereka bisa datang kembali ke Kuta. Sehingga pariwisata Kuta bisa kembali pulih,” harapnya. (BC5)














