balibercerita.com –
Nanas, pepaya, durian hingga rempah-rempah Nusantara menjadi modal para talenta gelato Indonesia untuk menembus panggung internasional. Kreativitas mengolah bahan lokal menjadi gelato berstandar dunia menjadi salah satu daya tarik Gelato World Cup Indonesian Selection yang digelar dalam Bali Interfood 2026.
Kompetisi tersebut berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, 2–4 September 2026. Bali Interfood tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-7 dan digelar Krista Exhibitions Group dengan mempertemukan pelaku industri makanan dan minuman, hospitality, bakery, kopi hingga teknologi dan solusi bisnis.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim mengatakan, kompetisi gelato tersebut diikuti sejumlah chef dari Bali dan berbagai daerah di Indonesia. Sekitar delapan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) asal Bali turut ambil bagian, selain peserta dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan sejumlah daerah lainnya.
Yang menjadi pembeda, peserta tidak bebas memilih bahan baku. Gelato yang disajikan wajib menggunakan bahan lokal dari negara masing-masing. Bagi peserta Indonesia, seluruh bahan yang digunakan harus berasal dari Indonesia. “Bahan bakunya harus dari negara masing-masing. Kalau dari Indonesia, ya harus menggunakan bahan lokal Indonesia,” ujar Daud saat ditemui di sela Bali Interfood 2026.
Tidak hanya cita rasa dan teknik pengolahan, peserta juga dituntut mampu menjelaskan asal-usul bahan yang digunakan serta keunggulannya di hadapan juri. Kemampuan membangun cerita dari bahan baku hingga menjadi produk gelato menjadi bagian dari penilaian. “Ketika mempresentasikan gelato sambil membuat, dia harus bercerita kenapa memilih ingredient ini dan kenapa memilih bahan baku rempah-rempah ini. Itu akan dinilai semuanya,” jelasnya.
Menurut Daud, Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk gelato. Nanas, pepaya, durian hingga berbagai rempah dapat menjadi identitas rasa yang membedakan gelato Indonesia dari negara lain. Sebaliknya, peserta Indonesia tidak diperkenankan menggunakan bahan yang bukan berasal dari Indonesia, seperti pistachio.
Ketentuan tersebut sekaligus mendorong peserta mengeksplorasi potensi bahan lokal dan mengemasnya menjadi produk yang memenuhi standar internasional. Kompetisi menggunakan standar internasional dengan melibatkan tim juri dari Association Chef Professionals (ACP), Bali Chef Professionals serta Indonesia Pastry Bakery Society (IPBSS).
Dari seleksi di Bali, akan dipilih wakil Indonesia yang selanjutnya bertanding di Krista Interfood di NICE PIK 2, Banten, 4–7 November 2026. Wakil Indonesia akan berhadapan dengan peserta dari sembilan negara lainnya untuk memperebutkan posisi terbaik di tingkat Asia Pasifik. Pemenang kompetisi kemudian mendapat kesempatan menjadi satu-satunya wakil Asia Pasifik untuk berlaga di Rimini, Italia, pada Januari 2027 dalam kompetisi gelato tingkat dunia.
Daud mengatakan Indonesia mendapat kepercayaan sebagai lokasi seleksi Asia Pasifik untuk kompetisi gelato tersebut. Krista Exhibitions dalam program tersebut bekerja sama dengan ACP, IPBSS serta SIGEP, penyelenggara pameran dan ajang industri gelato di Italia. Kondisi ini menjadi peluang baru karena Indonesia tidak perlu melalui Singapura seperti yang selama ini terjadi pada sejumlah kompetisi pastry, bakery dan kuliner internasional. “Untuk gelato, Indonesia dipilih menjadi tempat seleksi Asia Pasifik. Jadi pemenangnya nanti langsung ke Italia,” katanya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati menilai perkembangan gelato di Bali cukup pesat. Kehadiran bahan baku lokal dinilai menjadi kekuatan tersendiri bagi Bali untuk bersaing dalam kompetisi tersebut. “Perkembangan gelato di Bali sangat pesat. Apalagi didukung bahan baku lokal. Saya kira Bali punya peluang untuk memenangkan kompetisi ini,” ujar Cok Ace.
Menurutnya, perkembangan industri gelato juga tidak terlepas dari pertumbuhan sektor pariwisata Bali. Semakin beragamnya pilihan kuliner yang ditawarkan kepada wisatawan menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk berbasis bahan lokal dengan kualitas dan cita rasa yang mampu bersaing di pasar internasional. (BC5)















