balibercerita.com –
Ombak besar, arus kuat, tebing karang, hingga padatnya aktivitas surfing di pesisir Badung menjadi tantangan yang setiap hari dihadapi para personel Badung Lifeguard. Demi menjaga keselamatan wisatawan di kawasan pantai dunia itu, puluhan personel lifeguard ditempa melalui pelatihan gabungan jet ski dan boat karet di sejumlah titik ekstrem pesisir Badung.
Pelatihan yang berlangsung selama lima hari dari 4-8 Mei 2026 digelar oleh UPTD Badung Lifeguard Kuta dan Kuta Selatan secara swadaya. Mulai dari Pantai Legian hingga kawasan ekstrem Suluban dan Uluwatu dipilih sebagai lokasi latihan untuk mengasah kemampuan penyelamatan anggota di medan sesungguhnya.
Kepala UPTD Badung Lifeguard Kuta, I Wayan Somer mengatakan, pelatihan tersebut menjadi langkah penting untuk membentuk sumber daya manusia yang tangguh, bermental kuat, dan siap menghadapi berbagai kondisi di lapangan. “Pelatihan ini kami laksanakan agar Badung Lifeguard semakin eksis dan diakui. Harapannya mampu membentuk SDM yang handal dan berkarakter dalam menjaga wilayah pantai Kabupaten Badung,” ujarnya.
Menurutnya, wilayah kerja Badung Lifeguard memiliki karakter berbeda-beda dan membutuhkan strategi penyelamatan khusus. Di wilayah Kuta misalnya, area pengawasan membentang luas dari Pantai Jerman hingga Mengening dengan banyak titik arus kuat yang membutuhkan kesiapsiagaan tinggi.
Sementara kawasan Kuta Selatan dikenal jauh lebih ekstrem dengan ombak besar, karang tajam, dan arus tidak menentu. Karena itu, sesi pelatihan sengaja difokuskan di lokasi-lokasi berisiko tinggi seperti Uluwatu dan Suluban. “Kami sengaja memilih daerah ekstrem agar anggota memiliki keberanian dan kemampuan menghadapi kondisi sebenarnya di lapangan,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi langsung melakukan simulasi penyelamatan menggunakan jet ski dan boat karet di tengah ombak besar. Bahkan Somer turun langsung memberikan pelatihan boat karet kepada peserta. “Kami ingin mereka benar-benar memahami kondisi lapangan, bukan hanya teori di atas meja,” tegasnya.
Saat ini jumlah personel Badung Lifeguard di wilayah Kuta mencapai 105 orang dan Kuta Selatan sebanyak 55 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 16 anggota mengikuti pelatihan intensif dan mendapatkan penilaian khusus hingga predikat instruktur bagi peserta terbaik.
Kepala UPTD Badung Lifeguard Kuta Selatan, Ni Putu Sastra mengatakan, pelatihan gabungan tersebut menjadi momentum penting untuk membangun solidaritas dan standar kualitas SDM lifeguard Badung bertaraf internasional. “Badung Lifeguard adalah garda terdepan pariwisata bahari Badung. Karena itu kesiapan mental, fisik, dan kemampuan anggota harus terus diasah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, wilayah kerja Kuta Selatan membentang dari Pecatu hingga Tanjung Benoa dengan karakter pantai yang keras dan penuh risiko. Kondisi itu membuat anggota lifeguard harus memiliki ketahanan emosi dan keberanian tinggi saat bertugas. “Pelatihan ini penting untuk kesiapsiagaan mental maupun fisik anggota karena mereka menghadapi kondisi laut yang sangat ekstrem,” katanya.
Pelatihan gabungan ini juga disebut menjadi yang pertama dilakukan secara bersama antara UPTD Kuta dan Kuta Selatan. Selama ini latihan dilakukan secara mandiri di masing-masing wilayah. “Ini pertama kali kami melaksanakan pelatihan gabungan dan mungkin satu-satunya di Bali dengan konsep seperti ini,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, AA Putri Mas Agung mengapresiasi semangat personel Badung Lifeguard yang tetap menggelar pelatihan secara swadaya demi menjaga kualitas pelayanan wisata pantai di Badung. “Pantai di Badung masih menjadi primadona untuk surfing. Karena itu personel Badung Lifeguard harus siap di lapangan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan,” katanya.
Ia menegaskan, kebutuhan tambahan tenaga dan dukungan fasilitas ke depan akan dikaji bersama pemerintah daerah sesuai mekanisme yang berlaku. (BC5)


















