balibercerita.com –
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini dinilai berjalan jauh lebih ringan, lancar, dan teratur. Kuncinya terletak pada langkah cepat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali dalam memetakan wilayah penyokong, yang terbukti efektif mengurai penumpukan calon peserta didik di sekolah-sekolah dengan peminat tinggi.
Kepala SMAN 8 Denpasar, I Wayan Sucipta, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap regulasi pemetaan wilayah tersebut. Kebijakan ini dinilai sangat membantu pihak sekolah dalam mengelola kuota zonasi, tanpa membatasi kebebasan calon siswa untuk memilih sekolah incaran mereka melalui jalur prestasi, terlebih SMA Negeri 8 Denpasar berbatasan dengan Kabupaten Badung.
“Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan Provinsi Bali sudah sangat tanggap mengawal dengan pemetaan wilayah zonasi sehingga hal ini menyebabkan tugas kami menjadi lebih ringan di sekolah,” ujar Sucipta saat ditemui di sekolah setempat, Jumat (17/7).
Kendati implementasi tahun ini sukses besar, I Wayan Sucipta tetap memberikan catatan evaluasi kritis demi penyempurnaan PPDB di tahun depan. Salah satu poin krusial yang ia soroti adalah ketiadaan jeda waktu antara proses daftar ulang dan dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Sebagai gambaran, pada pelaksanaan tahun ini, proses pendaftaran kembali baru ditutup pada hari Minggu, sementara pelaksanaan MPLS langsung digeber keesokan harinya pada hari Senin. Jadwal yang sangat padat ini dinilai kurang memberikan ruang napas bagi calon siswa untuk bersiap.
Selain persoalan jadwal yang melelahkan, pihak sekolah juga mengusulkan agar kuota jalur afirmasi ke depan disesuaikan secara riil dengan kondisi demografi serta jumlah calon siswa kurang mampu yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Langkah ini penting agar kuota yang disediakan benar-benar tepat sasaran.
Terakhir, evaluasi juga menyasar pada tingkat ketelitian para calon siswa saat melakukan pemilihan sekolah secara digital. Pihak sekolah mengimbau agar siswa tidak asal klik saat mengisi aplikasi pendaftaran, demi menghindari risiko diterima di sekolah yang lokasinya sangat jauh dari tempat tinggal mereka.
“Untuk tahun depan kami memohon agar ada jeda jadwal, hari Minggu tidak usah ada aktivitas agar anak-anak lebih gampang bersiap. Jalur afirmasi juga perlu disesuaikan dengan kuota riil lingkungan sekitar sekolah,” pungkasnya. (BC18)


















