Beranda Budaya Bupati Adi Arnawa Naik Padmasana 12 Meter Saat Ngupasaksi Karya di Pura...

Bupati Adi Arnawa Naik Padmasana 12 Meter Saat Ngupasaksi Karya di Pura Dalem Kahyangan Tuban

0
Hadiri Karya
Bupati Adi Arnawa saat ngunggahang kwangen di atas Padmasana setinggi 12 meter. (ist)

balibercerita.com –
Momen menarik terjadi saat Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti menghadiri sekaligus ngupasaksi rangkaian upacara di Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, Kamis (17/9). Usai persembahyangan bersama, Adi Arnawa menaiki palinggih padmasana setinggi sekitar 12 meter untuk menghaturkan kwangen.

Aksi tersebut sempat membuat suasana mendebarkan, mengingat ketinggian palinggih yang dinaiki. Jajaran kecamatan dan kelurahan bersama prajuru desa adat tampak sigap memegang tangga yang digunakan Bupati Badung untuk memastikan proses tersebut berlangsung aman.

Adi Arnawa mengaku sempat merasa gugup ketika berada di tengah tangga. Dari bawah, ia mengaku ketinggian padmasana tersebut tidak terlalu terasa. Namun, perasaan berbeda muncul ketika dirinya mulai berada di atas dan melihat ke bawah.

“Terus terang, pertama kali saya melihat dari bawah tidak terlalu tinggi. Namun, saat di pertengahan hampir saya mundur. Apalagi melihat bendesa ikut naik dengan cepat, membuat ngeri. Akhirnya saya langsung, sudah satu tekad, bulatkan, astungkara bisa sampai ke luwur,” ucapnya.

Upacara tersebut merupakan rangkaian Karya Mamungkah Ngenteg Linggih Mapadudusan Agung Manawa Ratna Tawur Walik Sumpah Utama Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban, dengan puncak karya dijadwalkan pada 26 September 2026.

Baca Juga:   Bupati Adi Arnawa Tinjau Operasional RSUD Giri Asih, Harapkan jadi RS Rujukan Terbaik

Adapun Yajamana karya yaitu Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Wijayananda. Dalam kesempatan tersebut, Adi Arnawa juga melakukan penandatanganan prasasti pura dan menyerahkan punia sebesar Rp25 juta.

Dalam sambutannya, Adi Arnawa mendoakan seluruh rangkaian karya dapat berjalan sida sidaning don, labda karya dan sida paripurna. Ia juga berharap pelaksanaan yadnya tersebut membawa kerahayuan bagi jagat Badung dan Bali.

Ia mengajak seluruh krama Desa Adat Tuban menjaga persatuan dan kebersamaan setelah seluruh rangkaian upacara rampung. Semangat sagilik saguluk, salunglung sabayantaka sangat penting untuk terus dipelihara dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Adi Arnawa, kebersamaan tersebut juga penting mengingat Desa Adat Tuban memiliki posisi strategis sebagai salah satu gerbang pertama pariwisata Bali melalui jalur udara.

Diakuinya, Pemkab Badung, tetap berkomitmen melakukan penataan untuk kepentingan publik, termasuk rencana penataan akses menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai agar semakin nyaman sekaligus membantu mengurangi persoalan kemacetan.

Adi Arnawa juga mengaku kagum melihat keberadaan Pura Dalem Kahyangan dan Pura Prajapati yang dinilainya sangat baik. Ia berharap seluruh rangkaian karya berjalan lancar sekaligus dapat membantu meringankan beban krama dalam melaksanakan yadnya.

Baca Juga:   Bupati Adi Arnawa Hadiri Upacara Majaba Jero di Pura Dalem Sukun

“Kita memohon agar diberikan kelancaran dalam menata Badung menjadi lebih nyaman. Kita juga berdoa agar PAD meningkat sehingga semakin banyak yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat dan menjalankan program pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Badung,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh pihak bersama-sama menjaga iklim yang kondusif. Melalui pelaksanaan karya tersebut, Adi Arnawa berharap Ida Bhatara senantiasa memberikan kerahayuan dan kelancaran bagi seluruh krama.

Sementara itu, Bendesa Adat Tuban, Drs. I Wayan Mendra mengatakan, pemugaran Pura Dalem Kahyangan Desa Adat Tuban didanai melalui dana hibah Pemkab Badung tahun anggaran 2025 pada APBD induk sebesar Rp15,9 miliar. Namun, dana tersebut hanya diperuntukkan pembiayaan fisik pembangunan pura. Di luar itu, desa adat masih harus mengeluarkan dana dari kas desa adat senilai hampir Rp9 miliar. Dengan demikian, total biaya pembangunan diperkirakan mencapai Rp25 miliar.

Mendra menyebut proses upacara telah dimulai sejak 1 Agustus 2026. Rangkaian diawali dengan pemarisuda bumi, pecaruan hingga melaspas tetaring. Seluruh rangkaian akan berakhir pada puncak karya 26 September 2026, bertepatan dengan Purnamaning Kapat, Sabtu Umanis Bala.

Baca Juga:   Bupati Badung Adi Arnawa Lantik 1.477 ASN, Dorong Profesionalitas dan Digitalisasi Pelayanan Publik

Setelah puncak karya, rangkaian dilanjutkan dengan penganyaran selama empat hari. Selanjutnya, prosesi nyineb dijadwalkan pada 30 Oktober 2026 dan ditutup dengan nyegara gunung.

Atas dukungan Pemkab Badung, Mendra menyampaikan terima kasih dan rasa syukur karena telah memberikan dana hibah yang cukup besar untuk mendukung pembangunan pura. Kendati demikian, ia berharap dukungan tersebut dapat ditingkatkan ke depan karena kebutuhan pembangunan belum seluruhnya tercukupi dan sebagian masih menggunakan kas desa adat.

“Bersyukur dan berterima kasih kepada Pemkab Badung yang telah memberikan punia yang besar. Namun, ke depan tentu perlu ditingkatkan mengingat dana tersebut belum mencukupi karena kami masih mengeluarkan kas desa adat,” katanya.

Mendra juga berharap setelah pembangunan dan pemelaspasan rampung, Pemprov Bali, Pemkab Badung maupun PT Angkasa Pura Indonesia dapat memberikan perhatian lebih kepada Desa Adat Tuban. Menurutnya, perhatian tersebut penting mengingat posisi Tuban sebagai salah satu gerbang utama sekaligus gerbang terakhir Bali melalui jalur udara. (BC5)