Hari Tanpa Hujan Makin Panjang, Bali Mulai Waspadai Krisis Air dan Kebakaran Hutan

0
3
Krisis air
Kekeringan di wilayah perbukitan di Buleleng. (dok)

balibercerita.com –
Sejumlah wilayah di Bali mulai menghadapi periode tanpa hujan yang cukup panjang. Kondisi ini menjadi perhatian seiring memasuki puncak musim kemarau pada Juli–Agustus 2026 dan menguatnya fenomena El Nino yang membuat kondisi atmosfer semakin kering.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah mulai mengantisipasi dampak yang dapat muncul, terutama berkurangnya ketersediaan air, kekeringan lahan pertanian hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri mengatakan, hasil pemantauan BMKG pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan El Niño telah aktif dan terus menguat. Indeks suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat sekitar +2,26 derajat Celsius atau berada pada kategori kuat.

“Kondisi ini turut memperkuat atmosfer yang lebih kering di Indonesia, terutama wilayah bagian selatan termasuk Bali. Pengaruhnya mulai terlihat dari semakin meluasnya musim kemarau dan berkurangnya curah hujan,” ujarnya.

Kondisi tersebut semakin terlihat dari pemantauan hari tanpa hujan. Kabupaten Buleleng bahkan telah masuk kategori Awas karena sejumlah wilayah mengalami periode tanpa hujan lebih dari 61 hari.

Baca Juga:   Mendagri Ingatkan Antibodi Untuk Menetralisir Virus, Untuk Mencegah Tetap 3 M

Sementara, Kabupaten Jembrana berada pada kategori Siaga setelah tidak mengalami hujan selama lebih dari 31 hari. Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Kintamani di Kabupaten Bangli serta Kecamatan Kubu di Kabupaten Karangasem yang masuk kategori Siaga.

Menurut Aminudin, panjangnya periode tanpa hujan menjadi salah satu indikator yang perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi kekeringan meteorologis apabila berlangsung lebih lama. “Kondisi kekeringan dapat berkembang sesuai dengan panjangnya hari tanpa hujan dan secara umum wilayah Bali diprediksi mengalami curah hujan rendah pada periode musim kemarau,” jelasnya.

Puncak musim kemarau Bali yang berlangsung Juli hingga Agustus membuat persoalan ketersediaan air menjadi perhatian. Masyarakat diminta mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air bersih maupun air untuk kebutuhan pertanian.

Secara klimatologis, musim kemarau 2026 di Bali diperkirakan bersifat bawah normal. Artinya, curah hujan di sebagian besar wilayah Bali diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Bali akan sepenuhnya terbebas dari hujan.

“Penting disampaikan bahwa bawah normal bukan berarti Bali tidak akan mengalami hujan sama sekali. Hujan masih dapat terjadi secara lokal karena adanya dinamika atmosfer regional dan faktor lokal,” terang Aminudin.

Baca Juga:   Tiga Buruh Bangunan Terseret Air Bah di Jembrana, Satu Meninggal dan Satu Masih Hilang

Menurutnya, pengaruh El Nino lebih tepat dipahami sebagai meningkatnya kecenderungan kondisi kering dan berkurangnya peluang hujan secara umum, bukan menghilangkan hujan sepenuhnya.
Karena itu, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi kemungkinan hujan lokal, sekaligus mengantisipasi periode kering yang lebih panjang.

Selain persoalan air, kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Minimnya curah hujan membuat vegetasi lebih mudah mengering sehingga lebih rentan terbakar, terutama apabila disertai embusan angin.

BMKG meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Pemantauan terhadap wilayah yang memiliki potensi kekeringan dan karhutla juga perlu ditingkatkan.

Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin. “Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau dan El Nino, khususnya terkait ketersediaan air, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta potensi memburuknya kualitas udara,” ujarnya.

Aminudin menyarankan masyarakat mulai menghemat penggunaan air dan mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air bersih. Di sektor pertanian, penyesuaian aktivitas dengan kondisi ketersediaan air juga diperlukan.
Langkah lain yang perlu dilakukan adalah meningkatkan pemantauan titik api, menghindari pembakaran lahan serta menyiapkan mitigasi apabila kekeringan semakin meluas.

Baca Juga:   Gubernur Koster Berikan Insentif untuk Perbekel dan Bendesa Adat se-Bali

Di sisi lain, kondisi atmosfer Bali tetap dinamis. Selain El Nino, Monsun Australia turut membawa massa udara yang relatif kering ke wilayah selatan Indonesia, termasuk Bali. Namun, sejumlah dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara lokal.

“Meskipun El Nino cenderung memperkuat kondisi kering, aktivitas gelombang atmosfer tertentu masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan secara lokal. Karena itu, pada musim kemarau pun tetap memungkinkan terjadi hujan di Bali pada waktu dan lokasi tertentu,” jelasnya.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mewaspadai kekeringan. Hujan dengan intensitas tertentu masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer regional maupun lokal. “Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru dari BMKG karena kondisi atmosfer dapat berubah dari waktu ke waktu. BMKG juga mengingatkan bahwa musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali,” pungkasnya. (BC5)