balibercerita.com –
Lampu panggung mulai diredupkan. Perlahan, cahaya berpendar dari kostum para penari, menciptakan suasana magis yang langsung memikat perhatian penonton. Di Taksu Art Stage, Peninsula Island, The Nusa Dua, Sabtu (1/8) malam, Cipta Rwa Loka bukan sekadar tampil sebagai pertunjukan budaya, tetapi menjadi cara baru menceritakan filosofi Bali kepada dunia.
Di balik balutan teknologi glow in the dark, Founder Naluri Manca sekaligus pencipta karya, Ida Bagus Eka Haristha atau Gus Eka memastikan akar tradisi tetap menjadi roh utama pertunjukan. Melalui Cipta Rwa Loka, ia mengangkat filosofi Rwa Bhineda, tentang keseimbangan antara dua dimensi kehidupan, yang kasat mata dan yang tidak kasat mata.
“Konsep ini kami padukan dengan teknologi glow in the dark dalam komponen karya tradisional. Ini merupakan bentuk transformasi budaya, bagaimana tradisi bisa berjalan berdampingan dengan sentuhan modern sehingga lebih mudah diterima berbagai kalangan, termasuk wisatawan,” ujarnya.
Bagi Gus Eka, daya tarik pertunjukan ini tidak berhenti pada efek visual. Setiap gerakan, musik, dan permainan cahaya dirancang untuk menyampaikan pesan tentang Tri Hita Karana, filosofi yang mengajarkan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Harapannya bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan. Kami ingin penonton mengenal filosofi Bali melalui pertunjukan yang menarik,” katanya.
Perjalanan menghadirkan pertunjukan ini pun tidak singkat. Sejak 2022, tim Naluri Manca melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan perpaduan warna dan tata cahaya yang mampu menghasilkan efek glow in the dark sesuai karakter pertunjukan. Setiap jenis pencahayaan memberikan respons warna yang berbeda sehingga membutuhkan proses uji coba yang panjang.
Untuk pementasan di The Nusa Dua, persiapan dilakukan sekitar satu setengah bulan dengan latihan intensif pagi dan malam. Sebanyak 45 orang terlibat dalam produksi, terdiri atas 40 penampil dan lima kru pendukung. Menariknya, para penari berasal dari lintas generasi, mulai anak berusia sembilan tahun, pelajar SMP, hingga penari profesional.
Bagi Gus Eka, kolaborasi lintas usia tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan seni pertunjukan Bali. “Bukan hanya soal menari. Anak-anak kami libatkan agar mereka belajar disiplin, membangun mental tampil di panggung sekaligus berkolaborasi dengan para senior. Ini bagian dari proses regenerasi,” jelasnya.
Ia memastikan Cipta Rwa Loka akan terus berkembang. Setiap pekan, tema pertunjukan akan berganti, mulai dari kisah bawah laut, unsur api, hingga berbagai mitologi Bali lainnya yang tetap berlandaskan filosofi lokal. Dengan demikian, wisatawan yang datang kembali akan selalu menemukan cerita baru di atas panggung.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar menilai kehadiran Cipta Rwa Loka menjadi warna baru bagi atraksi malam di kawasan The Nusa Dua yang selama ini identik dengan tari kecak. “Selama ini setiap akhir pekan ada pertunjukan kecak. Sekarang kami kombinasikan dengan Cipta Rwa Loka agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang berbeda. Bali punya sesuatu yang baru, tetapi tetap berakar pada budaya dan filosofi lokal,” ujarnya.
Ke depan, Cipta Rwa Loka direncanakan menjadi pertunjukan rutin setiap Sabtu malam, sementara tari kecak tetap hadir setiap Jumat. Melalui inovasi ini, ITDC berharap wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk menikmati malam di The Nusa Dua sekaligus mengenal kekayaan budaya Bali dengan cara yang lebih segar. “Kami harapkan kegiatan ini semakin memperkaya pilihan atraksi malam di kawasan The Nusa Dua sekaligus mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan meningkatkan belanja selama berlibur di Bali,” kata Fajar. (BC5)Cipta Rwa Loka: Saat Cahaya, Tradisi, dan Filosofi Bali Menyatu di Panggung The Nusa Dua
















