Suhu Dingin di Bali Diperkirakan Berlangsung hingga Agustus

0
10
Bali dingin
Kawasan Danau Batur, Kintamani. Kintamani merupakan salah satu wilayah dengan suhu titik terendah di Bali. (BC13)

balibercerita.com –
Suhu udara di Bali yang terasa lebih dingin dalam beberapa hari terakhir diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus 2026. Bahkan, suhu terendah di sejumlah wilayah dataran tinggi tercatat mencapai 17 derajat Celcius.

Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar menegaskan kondisi tersebut merupakan fenomena yang normal saat puncak musim kemarau. Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, I Wayan Wirata menjelaskan kondisi udara yang lebih dingin dipengaruhi oleh angin monsun Australia serta berkurangnya tutupan awan selama musim kemarau.

Menurutnya, posisi semu tahunan matahari saat ini berada di titik balik utara atau sekitar 23,5 derajat Lintang Utara. Kondisi tersebut menyebabkan belahan bumi utara mengalami musim panas, sementara belahan bumi selatan, termasuk Indonesia bagian selatan, memasuki musim dingin.

Angin monsun Australia yang bergerak menuju Indonesia melintasi Samudera Hindia dengan suhu permukaan laut yang relatif lebih rendah. Udara dingin yang terbawa angin tersebut kemudian memengaruhi wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Bali. “Hal itu mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, terasa lebih dingin,” ujar Wirata Selasa (14/7).

Baca Juga:   Petenis Muda Bali dan NTB Siap Adu Prestasi di Bupati Badung Cup 2025

Selain faktor angin monsun, minimnya pembentukan awan dan berkurangnya curah hujan pada musim kemarau juga membuat suhu udara terasa semakin sejuk, khususnya pada malam hingga pagi hari. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer menyebabkan panas yang dipancarkan permukaan bumi pada malam hari tidak tertahan dan langsung terlepas ke atmosfer.

Kondisi langit yang cerah atau clear sky turut mempercepat pelepasan radiasi panas tersebut. Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan bumi menjadi lebih rendah sehingga udara terasa lebih dingin saat malam hingga menjelang pagi.

Wirata mengungkapkan, suhu minimum terendah yang tercatat di stasiun BMKG dalam beberapa hari terakhir terjadi di Stasiun Klimatologi Bali di Jembrana yakni mencapai 19 derajat Celcius. Sementara itu, suhu minimum di wilayah Denpasar dan sekitarnya tercatat 21 derajat Celcius berdasarkan pengamatan Stasiun Geofisika Sanglah.

Baca Juga:   Kantor Imigrasi di Klungkung dan Tabanan Segera Beroperasi

Adapun wilayah Badung dan sekitarnya mencatat suhu minimum 22 derajat Celsius berdasarkan data Stasiun Meteorologi I Gusti Ngurah Rai. Namun berdasarkan pengukuran alat otomatis, suhu udara yang lebih rendah tercatat di kawasan dataran tinggi. Pada 13 Juli 2026, suhu minimum di Baturiti mencapai 17 derajat Celcius, sedangkan di Kintamani tercatat 18 derajat Celcius.

Secara umum, berdasarkan pengukuran di tiga stasiun BMKG di Bali, yakni Jembrana, Badung, dan Denpasar, suhu udara selama sepekan terakhir berkisar antara 19 hingga 33 derajat Celcius. Suhu minimum 19 derajat Celcius tercatat di Stasiun Klimatologi Bali pada 9–10 Juli 2026. Meski udara terasa lebih dingin, Wirata menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam kategori normal dan relatif sama dengan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga:   Konsumsi Avtur di Empat Bandara Melonjak Signifikan Saat KTT G20

Ia memperkirakan suhu yang lebih sejuk masih akan dirasakan hingga Agustus mendatang seiring berlangsungnya puncak musim kemarau di Bali. “Berlangsung hingga Agustus di puncak musim kemarau. Namun, untuk tahun sebelumnya nilainya relatif sama,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk mewaspadai potensi angin kencang yang umum terjadi pada musim kemarau. Berdasarkan pengamatan BMKG, kecepatan angin maksimum di Stasiun Meteorologi I Gusti Ngurah Rai mencapai 20 knot atau sekitar 37 kilometer per jam.

Kondisi tersebut turut memicu peningkatan tinggi gelombang laut, terutama di perairan selatan Bali yang berpotensi mencapai dua meter atau lebih. “Imbauan kepada masyarakat agar tetap menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan beristirahat cukup. Pastikan juga untuk terus memperbarui informasi cuaca dari sumber terpercaya, yakni BMKG,” tegas Wirata. (BC5)